“Sering kali , orang dengan masa lalu yang gelap memiliki masa depan yang paling terang”
Memiliki teman masuk dalam jajaran kabinet atau mantan pejabat bukan berarti mereka adalah orang yang tahu segalanya. Mungkin dia tahu teknis, namun mengelola jabatanan perlu manajemen skill dan leadership.
Leadership adalah pengambilan keputusan cepat dan tepat, strategi adalah “do the thing right & do the right thing”. Manajemen adalah “get thing done through other people”.
Dimana efisiensi? Di mana profit? dimana biaya variable? Dimana inventory? Dimana resources? Dimana legal undang-undang? Dimana SDM dan para pakar? Dan banyak lagi barisan pekerjaan yang harus di perhatikan dan di selesaikan. Tidak mudah bagi yang tidak faham. Tapi jujur, bagi yang fahampun hal ini tidak mudah.
Pak presiden Jokowi saat ini agak beda gayanya. Dia menuntut efisiensi. Seperti pemotongan subsidi, pemotongan anggaran, dan banyak lagi yang lembaga negara dan kabinet harus mencontohkan pengurangan anggaran yang boros. Wajib di buang.
Menteri yang tidak bisa melakukan strategi bisnis pasti tergopoh-gopoh. Apa lagi menteri yang tidak punya jaringan kuat di berbagai kalangan. Cross referral ngak punya network, bisa “home alone” mereka. Pastinya bakal di buang dari kabinet.
Misalnya ambil contoh, jika sahabat tahu nama yang banyak tertempel di buku cetak, penerbit E atau penerbit W dan banyak lagi penerbit cetakan. Anggaran tahunan bisa 20 triliunan buat cetakan buku dari departemen tertentu.
Sebenarnya kalau mengerti manajemen dan faham strategi bisnis, Kalau mau berhemat, naikan ke web kekementrian soft copy buku cetak tyersebut, biar anak-anak mencetak sendiri di tempat masing-masing atau membaca sendiri langung dari komputer, atau melalui smartphone atau warnet terdekat dan di print. Tidak perlu repot mencetak, mendistribusikan keberbagai kota.
Bagi daerah yang jauh apa lagi. Distribusi sulit, maka kirim melalui email, web, dan hidupkan jaringan internet di daerah demi pelajaran softcopynya bisa sampai. Saat ini didaerah terpecil, internet ngak ada, buku ngak ada. Petakan sehingga bertahap bisa dilakukan.
Dengan cara soft copy, saya yakin negara hemat triliunan rupiah untuk hal ini. ya mbok kalau jadi pejabat itu ya berfikir manajemen sedikit. Kurangi peluang korupsi departemennya. Kurangi cetak-cetak gitu loh di kementriannya, banyak bener sih cetakan-cetakannya. Sudah lama menjabat kok masih ngak ngeh juga ya. Jaman digital sekarang ini loh om. Ya jangan banyak tebangin pohon buat kertas. Hemat pakai digital gitu loh. Uangnya kan 20 triliuan bisa di hemat buat yang lain. Awas loh, jangan di ulangi lagi urusan cetak-cetak ini mas bro yang baru jabat. Jangan kasih penerbit-penerbit lagi. Eh..ini buka rahasia ya? # may peace be upon us
Tidak ada komentar:
Posting Komentar