Dalam pengembangan bisnis ada jalur selain menggunakan uang bank. Namanya jalur “private placement”. Sekali lagi istilah private placement ini malahan bukan saja untuk pengembangan tetapi juga bisa menjadi salah satu “exit plan”.
Sebagai mana sahabat tahu dalam tulisan saya bulan lalu, saya di kritik sahabat saya ex CEO group besar dengan nilai turn over atau revenue penjualan dalam 1 tahun nilainya bisa mencapai USD 14 billion atau sekitar 200 triliun rupiah pertahun. Dia Managing director dari lebih 150 perusahaan tersebut. Di holdingnya.
Kritikannya kala itu adalah tentang kebiasaan saya yang di kenalnya sudah 20 tahun kalau buat bisnis selalu mengabaikan exit plan. Kalau sudah di jalani saya baru berfikir exit plannya bagaimana. Sementara sahabat saya ini berfikir exit plan bahkan sebelum bisnis jalan.
Jadi ketika dia berkata tenatng kesalahan dan kelalaian saya , saya hanya bisa komentar, siap ndan!. Anda benar!.
Sekarang saya mencoba untuk pertama kalinya. Saya memulai dengan exit plan di awal. Salah satu bisnis baru mulai saya , bisnis start up saya lakukan metode ini.
Saya datangi perusahaan venture capital. Dengan mengatakan 1 hal (setelah presentasi 10 menit) . Kalau bisnis ini sudah sampai “critical mass” nya, berapa kamu berani beli perusahaan saya. Saat ini saya tidak jual, tapi sekali lagi saya bertanya (dengan pede bahkan pede sekali), saya tanya, kalau sudah mencapai ‘critical mass” perusahaan saya yang saya akan jalankan ini, berapa anda berani menawar perusahaan saya?
Itu gaya sontoloyo bener khan. Lah orang perusahaan belum jalan, baru mau launch soft opening. Masih banyak pastinya sandungan dan gesekan yang akan menghambat kedepanya sebelum sampai titik critical mass tercapai. Tapi saya tantang mereka, sebuah venture capital yang sangat di hormati di dunia pembiayaan dan pembelian bisnis.
Berapa berani beli, buy out beli semua? Partial buying? Terserah saja..sekali lagi jika critical mass tercapai mau beli berapa nilainya? Di desak dengan pertanyaan begitu, saya tahu typical american company, pasti panas dia. Sekali lagi, jangan nantang kayak begini kalau orang asia. Tapi bule texas? Tantang dia..well sir? What is your price.
Tahu ngak apa yang terjadi. Dia ambil kertas tissue dari tempat kami duduk di tapas bar di bilangan kuningan tadi lalu dia menuliskan angka dalam dolar US..nanti kalau sempat saya up load fotonya, ketinggalan di jok belakang mobil. Yang saya jawab dalam hati, lumayan juga!. Sekarang saya berfikir keras, ok next chapter, bagaimana mencapai critical mass. # Peace
Tidak ada komentar:
Posting Komentar