Bertemu dengan pengusaha jepang di hari minggu malam di dalam acara santai makan ramen favorit saya di bilangan kemang. Terjadi diskusi panjang karena memang banyak yang kami saling pertanyakan. Beliau yang saya kenal sejak tahun 2005 lalu. Awalnya di tahun 1996 saya kenalan dengan ayahnya yang terlebih dahulu tinggal di Indonesia sejak 20 tahun yang lalu.
Proses perkenalan dengan ayahnya sangat unik yang saya pernah tulis dalam tulisan lama saya di tahun 2009 atau 2010 di FB ini. singkat cerita, kami makan bersama kemarin. Sambil mengunyah ramen, shoyu tamtam yang agak pedas dengan extra bawang putih kesukaan saya.
Saya bukan ahli kulinari, sulit saya menjelaskan rasa makanan tapi kalau diskusi tentang business behavior saya antusias sekali. Itoh, nama sahabat saya orang jepang itu bercerita, saat ini jepang adalah Negara “mature menuju plateu”. Perkataan yang sering saya pakai tapi agak bingung menterjemahkannya.
Kira-kira begini, jepang polulasinya makin tahun rata-rata penduduknya makin tua. Angkatan kerjanya usia rata-rata 47 tahun dimana mencari tenaga kerja muda sulit. Pertumbuhan penduduknya negative. Tingkat kelahiran rendah dan anak mudanya keluar negeri.
40 tahun yang lalu, dimana semangat kaizen sedang di dengungkan di jepang, produk jepang yang kualitasnya sangat bagus menguasai dunia. dunia kagum dengan prestasi bangsa jepang tersebut. Dan angka rata-rata usia produktif yang menguasai angkatan kerja adalah 34 tahun (40 tahunan yang lalu).
Bangsa jepang di masa itu muda, energic, inovasi nya jenius. Dunia di tahun 70 akhir hingga 90 awal di kuasai produk jepang, semangat jepang.
Itoh melanjutkan, bangsa korea (selatan) saat ini usia 41 tahun usia angkatan kerjanya dan lagi dalam top performace nya. Sejak tahun 90 an akhir hingga saat ini, produk dunia mutu tinmggi banyak produk korea seperti, Samsung, Hyundai dan lain sebagainya.
Bagaimana Indonesia? Itoh mengingatkan saya, wowiek san, kamu tidak akan pernah mendapatkan moment ini sampai dunia berakhir tentang Indonesia. Kecuali ada perang yang meluluh lantakan Indonesia. Kecuali bangsa indonesi tidak “tunggal ika” lagi, kecuali bangsa Indonesia pecah karena ego masing-masing, inilah masa terbaik bangsa Indonesia.
Usia rata-rata angkatan kerjanya diusia sangat produktif 28 tahunan. Dari sekarang hingga tahun 2025 dimasa itu rata-rata pas menjadi dewasa angkatn kerjanya usianya di 31 tahun. Percaya saya (kata Itoh) Indonesia akan mencapai GDP per capita di USD 12.000 di tahun tersebut.
Dengan populasi 280 jutaan di tahun 2025, Indonesia pasti masuk 10 negara perputaran ekonominya terbesar di dunia. syaratnya 1 wowiek san, Indonesia mulai manufaktur, industry UKM dan jangan memikirkan politik.
Bangsa jepang menyadari hal itu ketika di tahun 70an ada reformasi ekonomi. Yang memisahkan politik dengan ekonomi. Saat ini, otak orang indoensia, 70% politik, TV, media main stream, media social, 70% komentarnya kearah politik. Saya mangut-mangut mendengar panjang lebar cerita Itoh seorang doctor ekonomi, yang memiliki pabrik kimia besar di daerah Tanjung Priok, yang sangat ingin jadi warga Negara Indonesia.
Ok sahabat sekalian, yuk kita ubah “core attention” kita tidak terlalu ke arah politik. Yuk reformasi politik keluar dari pikiran kita sisakan sedikit saja , yuk stop bergantung pada pemerintah, yuk berkarya gandengan tangan sesama kita, UKM menanti, domestik konsumsi menanti, stop import bahan baku, bahan baku local banyak menanti di sentuh putra putri bangsa Indonesia. Ini menjawab mengapa kita terlahir disini dan untuk apa?!. # Peace
mf cuma mau cerita kisah nyata aku dalam kesuksesan aku,begini aku dulu anak petani 3bersaudara aku anak ke 3,3tahun yang lalu orang tuaku pusing karna banyak hutangnya gara gara aku disekolahkan sampai lulus s1,tapi aku diam2 mencari jalan keluar permasalahan kami and cek di internet sahpa tau ada orang pintar bisa membantu,tapi lama kelamaan aku temukan posting orang yang pernah minta bantuan ama mbah sangrego degan nonya085756670667,tapi awal takut hubungi karna kata orang larangan agama,aku beranikan diri telpon beliau degar cerama atau arahanya ternyatah bukan juga jalan sesat,tergantun keyakinan kata mbahnya,banyak juga pilihan aku diberikan ada,uang balik,dana hibah,uang gaib,dll...tergantun keinginan kita juga dan tidak ada tumbal,berkat bantuan beliau aku tak terbebagi hutang orang tua lagi,dan orang tua pun senang setelah aku ceritakan semuanya,terima kasih,wassalam....
BalasHapus