Saya ini paling sebel sama hutang. Apa lagi cara mengelola Negara menggunakan hutang. Bagi saya mengelola Negara dengan meminjam itu ngak keren. Banyak cara untuk tidak berhutang, tapi sudah kadung, pembisik istana maunya begitu, atau bisanya Cuma itu.
Ok, kita samber tulisan sebelumini, kita kembali ke india. Hasil tax amensety india sukses luar biasa. Bukan hanya mendapatkan uang pajak ampunan tetapi “pokok” nya yang “billion dollar” masuk balik ke india. Di Indonesia sang mega bintang ibu menkeu meniru india, hanya dapat “uang pajak ampunan” saja, pokoknya tetap mangkrak di luar negeri ngak balik. Ehem..bu menteri kategorinya gagal atau berhasil ya?
Pastinya hingga saat ini, ngak ada yang berani me-review sang bintang ibu ini. ya saya pura-pura ngak berani juga deh. Jadi nyentil saja dikit, abis ibu ngak deket sama pengusaha sih..ngak faham sisi bisnis, “kung fu-kung fu nya” bisnis ngak faham sih, ibu memang ahli sih, di belakang meja .
Jadi aja keputusannya hanya melindungi maneuver menteri lain yang kuat ngutang proyek dengan negara lain, ya ibu mega bintang jadinya sukanya magerin uang deh. Cegat sana, cegat sini, kasihan juga ya karena presiden nya di bisiki rinso sama LBP, suruh banyak-banyak ngutang china, ibu bintang kerepotan akhirnya membatasi banyak ruang gerak uang. Dan ini bisa diartikan tidak pro pengusaha, tidak pro investor (dalam negeri) .
Bu, kenapa ngak tiru india 100% sih? Toh tax amnesty ini Indonesia juga meniru Modi, meniru India.
Menirunya begini, uang “pokok” bonggolnya yang masuk itu harus di counter dengan “proyek”. Harus ada underlaying project. Nah ngerti ngak ibu menteri, tanya itu rinso dia ngerti banget proyek. Cuma kalau duit dari local atau hartanya orang Indonesia susah buat ambil “kick back”nya. Mending investor asing dari luar. Begitu khan rinso?.
Strategi dengan “asing” ini atau dengan “luar negeri” adalah strategi untuk dapat “bagian” di luar negeri. Lihat tuh korupsi garuda, semua komisi khan dari seller. Dari luar semua. Juga import BBM semua dari luar. Kalau dulu reza chalid sekarang ari S kakaknya rinso. Sekarang adem, ngak ada yang ributin.
Kembali ke uang yang akan di maksukan ke Indonesia. Harus ada sector riilnya. Dan kebetulan “harusnya” ada proyeknya. Yaitu proyek infrastuktur-nya pak Jokowi.
Jadi harusnya (sekali lagi harusnya) seluruh proyek infrastruktur pak Jokowi tidak usah pakai duit china.
Pakai bond atau obligasi atau surat hutang Negara di target kepada seluruh pemilik dana di luar negeri untuk masukan uangnya ke indoensia dengan return on investment 7- 9% pertahun. Sebagai ikatan tax amnesty. Pasti masuk tuh uang pokok-nya.
Ada Rp 11.000 triliun uang Indonesia terindikasi berada di luar. Itu bisa buat seluruh proyek infrastruktur pak Jokowi. Itu kalau under laying dari program tax amesty dilaksanakan.
Cara ini pak presiden Jokowi, tidak membuat kita ikut saran-nya rinso dan LBP yang meng-GADAI-kan anak cucu kita berhutang dengan china. Pakai uang sendiri bangsa sendiri. Tapi sayang sudah kadung, lewat deh itu , tax amesty sudah tutup , uang besarnya ngak masuk.
Di India pak, hanya kerja 2 orang yang kerja , menkuenya shri arun J dan PM nya narendra Modi. Masuk semua tuh proyek nya jadi “india membangun india” tidak pakai hutang. Apa lagi India, sangat ANTI CHINA. Anti jebakan pinjaman FDI foreign direct investment ala china.
Bagaimana Indonesia? Sudah ke iket boss. Terus bagaimana dong ke depan, setiap manusia Indonesia saat ini terikat hutang 13 juta rupiah. Bahkan bayi baru lahir sudah menanggung beban itu.
Padahal kalau tanya saya, ngak pakai duit china loh pak Jokowi. FDI itu bukan solusi, itu ngabot-ngaboti, memberat beratkan. Siapa sih pembisik istana, seneng bener bikin presiden kita kejeblok. Jangan sampai kita bikin FPE - forum pembela ekonomi