Selasa, 17 November 2015

Freeport dan Mafia DPR

saya tidak beranggapan bahwa freeport saat ini berusaha melempar bola panas untuk mengadu eksekutif,legislatif dan yudikatif di indonesia. kalaupun ternyata iya,sebenarnya bisa jadi berkah juga.
ini kan bisa jadi kritik.bahwa ternyata legislatif itu sebenernya bermain dengan korporat.legislatif dalam budaya demokrasi yang sekarang itu wadah dari pemilik modal yang berinvestasi di ranah politik.
rente berupa akses ke investor atau perusahaan industri ekstraktif yang bercokol di indonesia akan selamanya dimanfaatkan untuk klik kelompok.
sebenernya nggak satu parpol atau person,bisa jadi semuanya atau sudah jadi pola umum.kalau mau dibilang freeport mengadu,supaya kita menyalahkan legislatif, ya nggak bisa begitu.mereka itu kan gampangnya cuma 'pedagang'.
yang maunya untung,siapapun presidennya dan berapapun komposisi partai yang berada di legislatif.
jika seumpama menganggap freeport itu musuh,saya bersyukur kali ini musuh itu menunjuk apa yang buruk,dan apa yang busuk dalam pemerintahan yang berjalan sekarang.
sebenernya dengan beredarnya ini berita rakyat nggak rugi kok, yang rugi adalah mereka yang kredibilitasnya cemar karena gaya permainannya diungkap.
"tapi kredibilitas legislatif itu kan esensial dalam sebuah negara demokrasi"
hal ini biasanya terlontar dalam batin yang merasa bahwa. wakil rakyat dalam demokrasi representatif itu adalah wakil rakyat sesungguhnya. atau mungkin punya pertalian kepentingan dengannya, sehingga mau nggak mau harus loyal.
padahal sayangnya nggak demikian kebanyakan wakil rakyat itu kan bernaung dalam sebuah organisasi yang bernama parpol, dan parpol sisi gelapnya sebagai apa yang katanya wadah aspirasi sebenarnya adalah korporat juga, dimana mereka menjual isu atau sebuah derajat urgensi supaya rakyat memberikan suaranya.
ini tidak untuk menyudutkan mereka yang berada dalam posisi oposisi, it's works both ways.
baidewei saya bukan santo, berhubung saya nggak punya modal buat bikin parpol makanya sayanya bilang,hahaha

Paradox Tragedi

Akhir-akhir ini, banyak umat Islam “nyinyir” terhadap “aksi duka” atas tragedi di Paris. Kata mereka kurang lebih gini: “kok baru sekarang pas tragedi di Paris aja pada sok duka-dukaan gitu? Waktu Palestina, Irak, dst dibantai “kafir” kalian diam saja?”
Sebenernya, banyak umat muslim perilakunya ya nggak jauh beda dari kelompok yang mereka nyinyiri tersebut.
Umat muslim sendiri begitu perhatian terhadap konflik di Palestina, Irak, dst, sampe rela panas-panasan demo di HI. Tapi mereka diam aja terhadap kasus-kasus pembantaian macam di Sudan, Somalia, atau daerah-daerah lain di Timur Tengah atau Afrika Utara.
Amerika nyerang Irak, kenceng protesnya. Lah udah sejak lama Saddam jadi tukang bantai warganya sendiri, main bunuh, main penjarakan tanpa proses pengadilan yang sah, toh para muslim sok aktipis tersebut pada nggak pernah mau tau.
Kalo boleh saya berpendapat: Patron berpikir umat Islam dalam merespon konfik-konflik kemanusiaan di seluruh dunia itu sudah sangat “khas” dan mudah sekali ditebak :
Muslim vs muslim konflik = diam saja.
Muslim membantai kafir = tidak mau tahu.
Kafir membantai kafir = bukan urusan kita.
Kafir membantai muslim = Nah, ini baru layak disebut tragedi kemanusiaan!
Coba, perhatikan aja, polanya kan selalu begitu.
Kenapa banyak muslim “nyinyir” terhadap aksi duka korban Paris? Simpel jawabnya: Karena pelaku terornya adalah muslim, atau setidaknya mengarah kuat ke sana, sehingga banyak muslim merasa terpojok. Karena merasa terpojok, maka refleksnya adalah membela diri. Coba kalo pelakunya Yahudi dan korbannya muslim, pasti lain ceritanya.

Senin, 02 November 2015

Kecanduan Fakta Palsu

Ada sekelompok orang yang gemar memproduksi fakta palsu, kemudian bergembira dengan fakta itu. Menurut saya ini semacam kecanduan.
Setiap kali ada yang membuat fakta palsu, selalu ada bantahannya. Tapi sejumlah orang terus memproduksinya, lalu ada puluhan ribu orang di media sosial yang bergembira karena itu. Melihat sebuah "fakta" tentang sesuatu yang sesuai dengan angan, mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Bahwa kemudian dibuktikan bahwa fakta itu palsu, tak masalah. Mereka hanya butuh kebahagiaan saat melihatnya pertama kali.
Menurut para ilmuwan, pada otak semua jenis kegembiraan "didaftarkan" pada tempat yang sama, tak peduli apapun penyebabnya. Obat psikoaktif (baca: narkotika), imbalan uang, kepuasan seksual atau kenikmatan makan, semua berujung pada satu hal, yaitu dikeluarkannya neurotransmitter dopamine, di daerah nucleus accumbens di dalam otak. Daerah ini oleh para ahli disebut dengan pusat kenikmatan.
Dopamine kemudian "menguasai" otak. Dopamine berinteraksi dengan neurotransmitter lain, yaitu glutamate, membuat nucleus accumbens berkomunikasi dengan prefrontal cortex. Prefrontal cortex adalah daerah otak yang berfungsi melakukan perencanaan dan eksekusi. Jadi, nucleus accumbens terus mengirim signal bahwa ia membutuhkan sesuatu yang bisa menyebabkan dopamine diproduksi, kemudian prefrontal cortex mengeksusinya menjadi tindakan. Komunikasi ini membuat orang mengabaikan hal-hal logis, seperti pertimbangan bahwa penggunaan narkotika bisa merusak kesehatan atau berisiko terjerat hukum. Mekanisme inilah yang membuat orang-orang itu mengabaikan bantahan terhadap fakta palsu yang mereka lihat. Ringkasnya, kecanduan ini secara sistematis merusak proses logika mereka.
Jadi, orang-orang itu menjadikan fakta-fakta palsu sebagai sumber kebahagiaan. Otak mereka telah dikuasai oleh dopamine yang diproduksi dengan cara melihat fakta-fakta palsu tadi. Tak heran bila Anda perhatikan, wall mereka dipenuhi oleh berita atau posting yang berhubungan dengan fakta-fakta palsu tersebut.