Pada masa kampanye Obama sebagai Capres selalu mengkritik kebijakan pemulihan krisis yang dilakukan oleh Pemerintahan Bush dan Chairman The Fed Bernanke.
Bukan hanya Obama, tapi anggota kongres dan senat dari partainya (Demokrat) juga mengkritik stimulus moneter yang memanjakan Wall Street (sektor keuangan), tapi abai soal Main Street (sekor riil).
Banyak orang berspekulasi, dengan Kemenangan Obama dan jumlah kursi di parlemen lebih besar di Demokrat, masa depan Benanke sebagai Chairman The Fed akan berakhir. Menariknya, pada saat pembentukan Kabinet, Obama justru memasukan Kepala The Fed New York Tim Geithner sebagai Menteri Keuangan.
The Fed New York adalah kantor The Fed yang melaksanakan paket bailout yang dikecam Obama, yaitu memberi dana stimulus ke Wall Street, bukan Main Street.
Alasan Obama juga menarik, memilih Menkeu yang memahami masalah adalah orang yang berada dalam pusaran masalah itu sendiri.
Seperti layaknya tata negara yang menganut Indepedensi Bank Sentral, seperti juga di Indonsia, di Amerika Serikat juga menganut pencalonan Chairman The Fed oleh Presiden dan dipilih di parlemen.
Bedanya, di AS itu dilakukan 1 tahun setelah Presiden baru terpilih sedangkan di Indonesia justru sebaliknya Gubernur BI dipilih 1 tahun jelang pemerintahan akan berakhir.
Saya rasa ini juga harus diluruslan di dalam rencana perubahan UU BI setiap Kepala Negara (Presiden) terpilih diberikan hak menata lembaga negara dalam masa pemerintahannya, harusnya setahun setelah Presiden terpilih bukan seperti sekarang.
Sehingga, sekarang di tengah jatuhnya Rupiah kita melihat lagi sinyal disharmoni antara Presiden dan DPR terpilih dengan Gubernur BI yang dipilih periode sebelummya, sebagaimana bola panas yang sudah ditendang Fraksi PDIP DPR yang meminta Audit Khusus operasi moneter BI terkait tugasnya dalam UU BI untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Kita kembali lagi ke cerita di AS (sebagai studi komparasi), mengejutkan kemudian Obama mencalonkan Bernanke untuk periode ke 2 sebagai Chairman The Fed. Dalam pidato mengantarkan pencalonan Bernanke ke parlemen, Obama mengatakan situasi pemulihan krisis masih membutuhkan kreatifitas yang dimiliki oleh Bernanke.
Di era pertama Obama ini pulalah, selain Bernanke terpilih kembali sebagai Chairman The Fed, juga apa yang disebut stimulus “wall street” lebih terformalkan sebagai konsensus politik ekonomi Pemerintah – The Fed – Parlemen, itulah yang disebut QE (Quantitave Easing).
Yang menarik, disamping Obama menelan kembali ludahnya, di Amerika soal eksternalitas tampakya secara politik, memiliki kawan bersama. YAITU, “American Dream” yang dominan dalam perekonomian dunia.
Dukungan politik terhadap kawan bersama dan musuh bersama dalam perang moneter global cukup clear untuk tidak dijadikan saling cakar stabilitas politik. Demokrasi yang telah memaski usia dewasa, wajar saja
Hal yang sama juga terjadi di Cina, meski di sana lebih mudah karena politik satu partai.
Tapi, sekali lagi menarik melihat peta perang global dalam dasa warsa terakhir ini, yang terjadi di lapangan tembak moneter.Untuk satu ini, meski dalam alokasi anggaran di Amerika Serikat demokrasi model parlemen dan Presidensial bisa melahirkan “goverment shut down”, tetapi untuk mandat konsensus politik ekonomi eksternal di The Fed, tampaknya mereka disatukan oleh kawan bersama dan atau musuh bersama. Sebuah catatan.
Sebaliknya di Indonesia unsur eksternal justru jadi agenda amunisi saling cakar dalam kompetisi politik lokal.
Waktu berlalu, Bernanke dan The Fed selalu dibebani oleh konsensus normalisasi kebijakan QE. The Fed (FOMC) meyakini bahwa normalisasi dilakukan dengan memberhentikan kebijakan QE (Tapering Off) dan diikuti setelahnya kenaikan kembali Fed rate.
Ukurannya adalah (1) pertumbuhan ekonomi AS; (2) Angka Pengangguran AS; (3) Long Term Inflation target. Ukuran angka pun sudah diserahkan ke FOMC, dan mereka sepakati. Soal tapering off, mereka solid dan sudah sesuai sinyalnya telah dilakukan pula oleh The Fed. Lalu, pasar dimainkan di isu lanjutannya, kenaikan kembali Fed rate.
Disaat bersamaan dengan tapering off QE, maka pasar mulai berhitung normalisasi kebijakan The Fed yang akan menaikan suku bunga. Posisi tapering off QE dan normalisasi bunga Fed rate waktunya bersamaan dengan masa pemerintahan Obama kedua, yang artinya terjadi lagi masa pemilihan Chairman The Fed.
Pada masa kedua ini, Bernanke yang sudah dua kali jadi Chairman The Fed tidak dicalonkan kembali. Lalu, munculah nama Yellen yang merupakan Wakil Bernanke di The Fed.
Dan benar Obama mencalonkan Yellen sebagai calon tunggal. Dalam fit and proper di parlemen Amerika Serikat profil Yellen begitu tegas sebagai figur pro kenaikan bunga Fed rate, yang tergambar dari setiap FOMC vote soal kenaikan bunga Yellen pro kenaikan bunga.
Profil lain dari Yellen adalah dia merupakan staf Chairman The Fed Paul Volcker (Chairman The Fed 1979-1986, era Presideden Reagen). Dimana, saat ini Paul Volcker adalah penasehat ekonomi Obama untuk pemulihan Ekonomi.
Volcker terkenal sebagai aliran ‘clasic bankers’, yaitu peran Bank yang domonan sebagai transmisi kredir ke sektor riil dibandingkan perannya sebagai investment bankers dalam memutar uang di pasar keuangan.
Di era Obama, lahir pula Volcker Rule yang mengatur Perbankan Amerika Serikat untuk mengakhiri perannya di pasar keuangan. Aturan ini, pada waktu ditetapkan akan berlaku 1 Juli 2015.
FOMC The Fed di era terakhir Bernanke juga menyatakan baseline perkiraan kenaikan bunga mulai Januari 2015.
Dua sinyal ini, bunga dan volker rule serta terpilihnya Yellen di Januari 2014 diyakini dalam alam bawah sadar persepsi pasar yang mengglobal bahwa bunga dan anti tesis pasar akan jadi transmisi kebijakan The Fed.
Pasar tentu memberikan perlawanan dengan membuat volatilitas lebih lebar dan sering, sehingga jika bunga naiknya nanggung maka pasar masih jauh lebih tinggi memberikan gain. Dengan kata lain, pasar minta bunga lebih tinggi.
Soal pasar yang sok ngatur kompetisi market gain (return) dengan bunga Fed rate pada dasarnya akan dikunci oleh pelaksanaan Volcker Rule.
Menariknya, Volcker Rule pun ditunda oleh The Fed pelaksanaanya. Konon, paling cepat Juli 2016 atau bahkan kemungkinan besar ke Juli 2017.
Disisi lain, Cina (PBoC) terpancing keluar dari permainan saling bertahan ini dengan mendevaluasi Yuan. Lalu, The Fed menyatakan syarat naikan bunga belum tercapai karena long run inflation baru 1,7% dari 2% yang jadi baseline The Fed dalam menaikan bunga.
Devaluasi Yuan sebagai partner dagang impor barang di Amerika Serikat jadi turun, inflasi di AS direm bunga tak punya legitimate order untuk naik.
Tapi, bagi saya gambaran ini menarik sekali betapa Amerika Serikat telah bermain “strategi persepsi” menyihir keyakinan global mereka akan pilih naikin bunga dan volcker rule dengan memilih Yellen.
Tapi, hari ini “sihir Yellen” berbeda arahnya. Satu hal, kenaikan bunga adalah biaya Bank Sentral dalam mengkompensasi Inflasi. Dimana, di satu sisi inflasi dalam batas tertentu juga adalah energi pertumbuhan ekonomi.
Kalau dilihatnya kesana, pemulihan ekonomi pertama kali selalu terkait konsumsi rumah tangga. Yellen juga meengatakan anga pemulihan konsumsi rumah tangga memuaskan.
Yang tersirat dari yang tersurat, di sisi lain penyerapan tenaga kerja yang membiayai konsumsi rumah tangga memerlukan investasi. Di keseimbangan antara agresifitas penyerapan tenaga kerja di atas konsumsi itulah energi inflasi akan jadi olinya.
Apa yang ingin dilakukan oleh kenaikan bunga? Ada 2 hal, mengkompensasi inflasi dan mengkonsolidasikan uang beredar di pasar keuangan ke dalam keranjang perbankan AS. Skenaario normalisasi menyatakan bahwa setelag dana terkonsolidasi, maka perbankan AS dengan Volcker rule akan kembali ke pasar kredit investasi.
Jadi, kenaikan bunga sebagai biaya akan diganti oleh keuntungan bergeraknya investasi melalui kredit Bank yang menyerap daya kerja. Pada akhirnya, daya kerja ini akan menjadi pertumbuhan daya beli yang akan mengeliminasi inflasi berlebihan.
Yang terjadi saat ini The Fed tampil dengan keterbukaan langkah dan ukuran data. Mereka selalu mengatakan memberi kesempatan kepada negara berkembang dan pasar keuangan yang terkena dampak kebijakan normalisasi Fed untuk bersiap, waktu yang diberikan selalu “based on data”.
Sampai sini, kita “strong US Dolar atas semua mata uang” terjadi, dan inflasi menuju 2% tampak terproyeksi, munculah Cina (PBoC) yang menyebabkan harga barang impor dari Cina turun (perang mata uang). Drama ini tertunda, PBoC mengambil langkah menghentikan umpan Fed ATAUKAH sebaliknya Fed berhasil memancing PBoc?
Disini, bagi saya menarik perang mata uang sebagai perang abad ini dengan pertempuran antar Bank Sentral, memainkan permainan dominasi melalaui pembentukan persepsi, bahkan seperti main bola bisa juga dengan tendangan pisang yang menipu.
Terpilihnya Yelen telah membuat banyak orang yakin akan cepatnya bunga naik dan volker rule, begitu dekat justru tidak jadi. Cerdiknya, merek sudah siapkan bahwa bukan karena mereka mempermainkan pasar, tapi karena memang ambang batas data inflasi yang dibuka sebelumnya belum sampai.
Inilah era yang kita hadapi, sebuah era yang sama dengan saat depresi besar di tahun 1929 di Bursa New York. Saat itu, 1930 Bung Karno dalam persidangan Hindia Belanda dalam pledoi “Indonesia Menggugat”, mengatakan dengan jelas kami disuruh tanam paksa, kerja paksa yang hasilnya untuk membiayai krisis industri negara barat.
Saat ini, ya sama kan? Siapa membiayai siapa? Ini persoalan bangsa, yang harus dihadapi dengan strategi negara “bersati kita teguh, bercerai kita runtuh”.
Ingat kembali krisis 1929, banyak yang menulis dalam literatur bahwa keseimbangan baru tak semata keberhasilan paket Ekonomi New Deal Roselvelt, tapi juga karena Perang Dunia ke 2 mengakhirinya menuju keseimbangan baru.
Coba tengok, saat ini PBoC Cina mengajak permainan cepat dengan mengambil aksi devaluasi Yuan perang mata uang. Rusia jga sama seolah memberi sinyal cepetan aja menuju zona perang fisik.
Perlu diingat era Volcker sebagai Chairman The Fed di pemerintahan Reagan juga AS dilanda mini krisis 1980 yang kemudian mereka keluar dengan invasi ke teluk. Seolah Putin mau bilang ke Obama, kalau ini yang kalian mau ayo kita ke Suriah…
aah, itukan masih spekulasi barangkali… tapi, inilah dunia baru siapa berstrategi mendahului kurva maka mereka berpeluang memanfaatkan krisis jadi lompatan menjadi pemenang..
Salam #enjoyAja,