Senin, 12 Juni 2017

MENYAPA TANAMAN


Di kampung halaman di malang, selama ramadhan weekend saya sowan ke ibu. Itu komitmen saya tahun ini. Bayangkan, seorang berusia kepala 5 seperti saya, tetap anak kecil di hadapan ibu saya. Tetap semua benar apa yang dikatakan ibu saya kepada saya dan saya tidak akan pernah membantah, tetap manut 100% taklit apa yang di katakan ibu saya. Saya tidak pernah “grow up” di depan ibu saya.
Perkataan ibu bagi saya adalah titah, perintahnya adalah keharusan, keinginannya adalah amanah. Itu keputusan saya terhadap ibu saya.
Sampai seumur ini, saya masih duduk di karpet kalau ibu saya duduk di kursi, saya tidur di tempat tidur di bawah ibu saya posisinya. Dan cucunya, anak-anak saya? sama saja, meniru saya. Tetapi kesaya..anak-anak egaliter terhadap saya dan saya pun sangat egaliter kepada anak-anak. Saya “player”banget kalau urusan dengan anak. Adventurer banget dengan anak-anak. Bisa argument dengan anak-anak.
Ini karena beda jaman. Beda era, beda masa, beda pola pikir.
Ibu saya masih ngurusi kebun walau kecil, pagi masih ngurusi kebun apel (dulu) sekarang lagi di tebang semua di ganti jeruk. Baru tahun ke tiga. Tahun ke 4 kelima baru nati akan panen. Lama memang kebun itu mengelolanya, harus sabar. Apa lagi prinsip ibu “ pupuk terbaik bagi tanaman adalah kaki petani itu sendiri”.Jadi yang namanya ndangir, mupuk, nyemai, dan banyak lagi tiap saat harus di kerjakan, termasuk di sapa di sentuh di raba itu pohonnya.
Cucu nya semua mendadak jadi tukang kebun kalau dengan eyangnya ke kampung, di pujon. Sudah dingin, pagi-pagi di suruh “nyapa” tanaman coba. Yo wis, di ikuti saja. Seru kok melakukan hal yang “tak lazim” itu.

ANTI FDI-FOREIGN DIRECT INVESTMENT

Saya ini paling sebel sama hutang. Apa lagi cara mengelola Negara menggunakan hutang. Bagi saya mengelola Negara dengan meminjam itu ngak keren. Banyak cara untuk tidak berhutang, tapi sudah kadung, pembisik istana maunya begitu, atau bisanya Cuma itu.
Ok, kita samber tulisan sebelumini, kita kembali ke india. Hasil tax amensety india sukses luar biasa. Bukan hanya mendapatkan uang pajak ampunan tetapi “pokok” nya yang “billion dollar” masuk balik ke india. Di Indonesia sang mega bintang ibu menkeu meniru india, hanya dapat “uang pajak ampunan” saja, pokoknya tetap mangkrak di luar negeri ngak balik. Ehem..bu menteri kategorinya gagal atau berhasil ya?
Pastinya hingga saat ini, ngak ada yang berani me-review sang bintang ibu ini. ya saya pura-pura ngak berani juga deh. Jadi nyentil saja dikit, abis ibu ngak deket sama pengusaha sih..ngak faham sisi bisnis, “kung fu-kung fu nya” bisnis ngak faham sih, ibu memang ahli sih, di belakang meja  .
Jadi aja keputusannya hanya melindungi maneuver menteri lain yang kuat ngutang proyek dengan negara lain, ya ibu mega bintang jadinya sukanya magerin uang deh. Cegat sana, cegat sini, kasihan juga ya karena presiden nya di bisiki rinso sama LBP, suruh banyak-banyak ngutang china, ibu bintang kerepotan akhirnya membatasi banyak ruang gerak uang. Dan ini bisa diartikan tidak pro pengusaha, tidak pro investor (dalam negeri) .
Bu, kenapa ngak tiru india 100% sih? Toh tax amnesty ini Indonesia juga meniru Modi, meniru India.
Menirunya begini, uang “pokok” bonggolnya yang masuk itu harus di counter dengan “proyek”. Harus ada underlaying project. Nah ngerti ngak ibu menteri, tanya itu rinso dia ngerti banget proyek. Cuma kalau duit dari local atau hartanya orang Indonesia susah buat ambil “kick back”nya. Mending investor asing dari luar. Begitu khan rinso?.
Strategi dengan “asing” ini atau dengan “luar negeri” adalah strategi untuk dapat “bagian” di luar negeri. Lihat tuh korupsi garuda, semua komisi khan dari seller. Dari luar semua. Juga import BBM semua dari luar. Kalau dulu reza chalid sekarang ari S kakaknya rinso. Sekarang adem, ngak ada yang ributin.
Kembali ke uang yang akan di maksukan ke Indonesia. Harus ada sector riilnya. Dan kebetulan “harusnya” ada proyeknya. Yaitu proyek infrastuktur-nya pak Jokowi.
Jadi harusnya (sekali lagi harusnya) seluruh proyek infrastruktur pak Jokowi tidak usah pakai duit china.
Pakai bond atau obligasi atau surat hutang Negara di target kepada seluruh pemilik dana di luar negeri untuk masukan uangnya ke indoensia dengan return on investment 7- 9% pertahun. Sebagai ikatan tax amnesty. Pasti masuk tuh uang pokok-nya.
Ada Rp 11.000 triliun uang Indonesia terindikasi berada di luar. Itu bisa buat seluruh proyek infrastruktur pak Jokowi. Itu kalau under laying dari program tax amesty dilaksanakan.
Cara ini pak presiden Jokowi, tidak membuat kita ikut saran-nya rinso dan LBP yang meng-GADAI-kan anak cucu kita berhutang dengan china. Pakai uang sendiri bangsa sendiri. Tapi sayang sudah kadung, lewat deh itu , tax amesty sudah tutup , uang besarnya ngak masuk.
Di India pak, hanya kerja 2 orang yang kerja , menkuenya shri arun J dan PM nya narendra Modi. Masuk semua tuh proyek nya jadi “india membangun india” tidak pakai hutang. Apa lagi India, sangat ANTI CHINA. Anti jebakan pinjaman FDI foreign direct investment ala china.
Bagaimana Indonesia? Sudah ke iket boss. Terus bagaimana dong ke depan, setiap manusia Indonesia saat ini terikat hutang 13 juta rupiah. Bahkan bayi baru lahir sudah menanggung beban itu.
Padahal kalau tanya saya, ngak pakai duit china loh pak Jokowi. FDI itu bukan solusi, itu ngabot-ngaboti, memberat beratkan. Siapa sih pembisik istana, seneng bener bikin presiden kita kejeblok. Jangan sampai kita bikin FPE - forum pembela ekonomi

MIMPI DINNER


Baru saja saya mendapat wa dari teman yang dalam screen hape saya terbaca, mas..impian sampeyan bakalan ada yang terkabul lagi!..
Saya jawab, impian yang mana? Saya balas wa nya sambil berkata dalam hati : banyak mimpi saya sampai lupa saking ambisiusnya barisan daftar mimpi-mimpi tersebut.
Itu, makan malam sama pemimpin dunia! kata sahabat saya di seberang WA
Kok bisa yakin kalau mimpi saya akan terkabul? Saya bertanya
Kita panitianya, kita yang mengundang, dan pastinya satu bangku saya siapkan buat kang mas..t5ulisan wa di tutup dengan emoticon ketawa.
Ah yang bener? Saya mulai tahu kemana arah bicaranya. Teman saya ini orang kuat dalam pemerintahan rezim yang lalu, yang saya ngak suka sama penguasaanya tetapi tetap respect dengan teman saya ini.
Kapan? Saya tanya
1 juli 2017, di balasnya
Dimana? Saya tanya lokasi
Di kota kasablanka. Jawabnya kemudian
Huiiiii…di Jakarta?!! bener nih?!, Saya tulis sambil jingkrak berdiri dari duduk
Yup! Jawabnya singkat
Obama khan?, Saya tanya dengan meminta kepastian jawaban tebakan saya
Yes bro!! one seat reserve for you..itu tulisan di wa yang membuat saya terbang melayang. Apakah satu impian akan terjadi lagi, dinner dengan mantan commander in chief. Di tunggu confirmasi pasnya.

YATIM


Sekembalinya dari berhaji tahun 1996 saya mewakafkan sebuah bangunan di jatibening yang kemudian kami buat yayasan husnul khatimah. Panti yatim. Kami mulai dengan memilihara 49 anak, laki-laki semua usia tidak ada yang lebih tua dari 15 tahun.
Pengurus hariannya, kala itu pemuda asal lamongan Muhammad Aly. Dan kemudian berkembang hingga bermentamorphosis menjadi RYI Rumah Yatim Indonesia.
Ada banyak cerita 21 tahun berberak dalam dunia panti yatim. Dan bukan hal masalah agama atau panti yang saya mau ceritakan dalam tulisan ini. Lainnya. Sebagaimana sahabat tahu, ada dua hal yang tabu saya tuliskan dalam status di FB ini. pertama tulisan tetang romance atau percintaan, berikutnya masalah spiritual.
Keduanya kecil dan hampir tidak mungkin saya tulis. Saya hanya lewat sekilas. Seperti informasi Rumah Yatim Indonesia yang saya rintis lama ini. Sekarang di Tasikmalaya markasnya dengan kang saiful chairmannya. Pemuda tabah luar biasa. Mengapa pindah dari jatibening ke tasik, ada juga cerita panjang yang saya mungkin ada “salah”nya.
Tulisan kali ini menceritakan kegelisahan saya saja sisi lain, yaitu ekonomi.
Saya memiliki data ekonomi Indonesia dan data itu tidak bagus, tidak kinclong bahkan jelek dan menurun. Industry manufaktur terendah dalam sejarah hanya 18% dimana kalau ternyata turun lagi di level di bawah 15% negera Indonesia bisa kembali menjadi negera agraris lagi. Back ward mundur industrinya.
Namun pengemar jokower tidak suka dengan argument saya. pemuja SM , rinso dan LBP adalah hater saya. sementara saya punya argument, tetapi dari sisi kenyataan yang saya alami, bisnis property saya sudah 2 tahun ini hanya menjual 5 rumah yang biasanya 1 tahun 20 rumah. Memang kami main di kelas B, bukan di kelas BTN . Kelas B adalah kelas 2-5 milyar perunit rumah.
Dalam bidang lain seperti teknologi, perminyakan, air minum perusahaan saya, 2 tahun terakhir hampir semua sales perusahaan turun, profit menipis. Bahkan sebagian harus lay off karyawan sejak tahun lalu.
Hal inilah yang membuat saya gelisah. Apakah saya sendirian yang lagi “sulit” dimana yang lain lagi heppy-heppy. Kalau benar begitu saya yang geblek. Kalau ternyata banyak orang seperti saya, maka tidak boleh salahkan pemerintah, ya kita geblek bareng artinya.
Sehingga saya pun malam tadi bertanya kepada pengurus RYI via telpon. Berapa zakat infaq shodaqoh dimana kami biasanya tahu sekali masukan RYI di bulan ramadhan bisa menghidupi panti sepanjang tahun.
Saya tidak akan mengatakan berapa jumlahnya biaya opersional tahunan kami, saya hanya ingin aman kah tahun ini. kalau ternyata aman atau bahkan meningkat maka itu cermin ekonomi makro Indonesia bagus. Hanya saya saja mungkin bisnisnya yang lagi kontraksi turun. Sementara yang lain naik atau stabil.
Karena jujur, sisi zakat mal, infaq secara perusahaan saya salurkan ketempat ini dan dengan berat hati turun jauh dalam 2 tahun ini.
Dan ketika jawaban pengurus RYI hingga minggu ketiga ramadhan ini belum setengah “ZIS”nya dari ramadhan-ramadhan biasanya maka saya yang tertunduk lemas. Apakah Indonesia salah kelola nih? . atau kami RYI yang kurang berjuang? Maaf bolehkah saya menunjuk pemerintah? .
Saya memutar otak keras tadi malam, saya merenung dan mencari solusi, banyak lintasan-lintasan terbetik dalam benar yang kaget saya ketika wa kang Syaiful yang menyatakan, ada ide apa pak?
Saya jawab melalui wa juga, ada banyak kang, merapat ke Jakarta ya atau ba’da ramadhan saya ke tasik.
Kalau urusan indonesia saya ngak berdaulat tetapi ratusan anak yatim RYI adalah bagian yang harus di pikirkan solusinya. Hanya bertumpu pada kekuatan sendirilah kembali lagi masalah itu terselesaikan