Selasa, 17 November 2015

Freeport dan Mafia DPR

saya tidak beranggapan bahwa freeport saat ini berusaha melempar bola panas untuk mengadu eksekutif,legislatif dan yudikatif di indonesia. kalaupun ternyata iya,sebenarnya bisa jadi berkah juga.
ini kan bisa jadi kritik.bahwa ternyata legislatif itu sebenernya bermain dengan korporat.legislatif dalam budaya demokrasi yang sekarang itu wadah dari pemilik modal yang berinvestasi di ranah politik.
rente berupa akses ke investor atau perusahaan industri ekstraktif yang bercokol di indonesia akan selamanya dimanfaatkan untuk klik kelompok.
sebenernya nggak satu parpol atau person,bisa jadi semuanya atau sudah jadi pola umum.kalau mau dibilang freeport mengadu,supaya kita menyalahkan legislatif, ya nggak bisa begitu.mereka itu kan gampangnya cuma 'pedagang'.
yang maunya untung,siapapun presidennya dan berapapun komposisi partai yang berada di legislatif.
jika seumpama menganggap freeport itu musuh,saya bersyukur kali ini musuh itu menunjuk apa yang buruk,dan apa yang busuk dalam pemerintahan yang berjalan sekarang.
sebenernya dengan beredarnya ini berita rakyat nggak rugi kok, yang rugi adalah mereka yang kredibilitasnya cemar karena gaya permainannya diungkap.
"tapi kredibilitas legislatif itu kan esensial dalam sebuah negara demokrasi"
hal ini biasanya terlontar dalam batin yang merasa bahwa. wakil rakyat dalam demokrasi representatif itu adalah wakil rakyat sesungguhnya. atau mungkin punya pertalian kepentingan dengannya, sehingga mau nggak mau harus loyal.
padahal sayangnya nggak demikian kebanyakan wakil rakyat itu kan bernaung dalam sebuah organisasi yang bernama parpol, dan parpol sisi gelapnya sebagai apa yang katanya wadah aspirasi sebenarnya adalah korporat juga, dimana mereka menjual isu atau sebuah derajat urgensi supaya rakyat memberikan suaranya.
ini tidak untuk menyudutkan mereka yang berada dalam posisi oposisi, it's works both ways.
baidewei saya bukan santo, berhubung saya nggak punya modal buat bikin parpol makanya sayanya bilang,hahaha

Paradox Tragedi

Akhir-akhir ini, banyak umat Islam “nyinyir” terhadap “aksi duka” atas tragedi di Paris. Kata mereka kurang lebih gini: “kok baru sekarang pas tragedi di Paris aja pada sok duka-dukaan gitu? Waktu Palestina, Irak, dst dibantai “kafir” kalian diam saja?”
Sebenernya, banyak umat muslim perilakunya ya nggak jauh beda dari kelompok yang mereka nyinyiri tersebut.
Umat muslim sendiri begitu perhatian terhadap konflik di Palestina, Irak, dst, sampe rela panas-panasan demo di HI. Tapi mereka diam aja terhadap kasus-kasus pembantaian macam di Sudan, Somalia, atau daerah-daerah lain di Timur Tengah atau Afrika Utara.
Amerika nyerang Irak, kenceng protesnya. Lah udah sejak lama Saddam jadi tukang bantai warganya sendiri, main bunuh, main penjarakan tanpa proses pengadilan yang sah, toh para muslim sok aktipis tersebut pada nggak pernah mau tau.
Kalo boleh saya berpendapat: Patron berpikir umat Islam dalam merespon konfik-konflik kemanusiaan di seluruh dunia itu sudah sangat “khas” dan mudah sekali ditebak :
Muslim vs muslim konflik = diam saja.
Muslim membantai kafir = tidak mau tahu.
Kafir membantai kafir = bukan urusan kita.
Kafir membantai muslim = Nah, ini baru layak disebut tragedi kemanusiaan!
Coba, perhatikan aja, polanya kan selalu begitu.
Kenapa banyak muslim “nyinyir” terhadap aksi duka korban Paris? Simpel jawabnya: Karena pelaku terornya adalah muslim, atau setidaknya mengarah kuat ke sana, sehingga banyak muslim merasa terpojok. Karena merasa terpojok, maka refleksnya adalah membela diri. Coba kalo pelakunya Yahudi dan korbannya muslim, pasti lain ceritanya.

Senin, 02 November 2015

Kecanduan Fakta Palsu

Ada sekelompok orang yang gemar memproduksi fakta palsu, kemudian bergembira dengan fakta itu. Menurut saya ini semacam kecanduan.
Setiap kali ada yang membuat fakta palsu, selalu ada bantahannya. Tapi sejumlah orang terus memproduksinya, lalu ada puluhan ribu orang di media sosial yang bergembira karena itu. Melihat sebuah "fakta" tentang sesuatu yang sesuai dengan angan, mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Bahwa kemudian dibuktikan bahwa fakta itu palsu, tak masalah. Mereka hanya butuh kebahagiaan saat melihatnya pertama kali.
Menurut para ilmuwan, pada otak semua jenis kegembiraan "didaftarkan" pada tempat yang sama, tak peduli apapun penyebabnya. Obat psikoaktif (baca: narkotika), imbalan uang, kepuasan seksual atau kenikmatan makan, semua berujung pada satu hal, yaitu dikeluarkannya neurotransmitter dopamine, di daerah nucleus accumbens di dalam otak. Daerah ini oleh para ahli disebut dengan pusat kenikmatan.
Dopamine kemudian "menguasai" otak. Dopamine berinteraksi dengan neurotransmitter lain, yaitu glutamate, membuat nucleus accumbens berkomunikasi dengan prefrontal cortex. Prefrontal cortex adalah daerah otak yang berfungsi melakukan perencanaan dan eksekusi. Jadi, nucleus accumbens terus mengirim signal bahwa ia membutuhkan sesuatu yang bisa menyebabkan dopamine diproduksi, kemudian prefrontal cortex mengeksusinya menjadi tindakan. Komunikasi ini membuat orang mengabaikan hal-hal logis, seperti pertimbangan bahwa penggunaan narkotika bisa merusak kesehatan atau berisiko terjerat hukum. Mekanisme inilah yang membuat orang-orang itu mengabaikan bantahan terhadap fakta palsu yang mereka lihat. Ringkasnya, kecanduan ini secara sistematis merusak proses logika mereka.
Jadi, orang-orang itu menjadikan fakta-fakta palsu sebagai sumber kebahagiaan. Otak mereka telah dikuasai oleh dopamine yang diproduksi dengan cara melihat fakta-fakta palsu tadi. Tak heran bila Anda perhatikan, wall mereka dipenuhi oleh berita atau posting yang berhubungan dengan fakta-fakta palsu tersebut.

Rabu, 28 Oktober 2015

PEMUDA & POLITIK

Selama 15 tahun Lebanon pecah perang saudara, yang dilatar belakangi agama.
4 tahun Suriah berantakan karena isu agama. Libya sampai sekarang hancur menjadi negara gagal tempat bersarangnya teroris berbaju gamis sesudah pemersatu mereka, Muammar Qaddafi di kudeta. Irak setiap minggu terjadi minimal satu kali bom bunuh diri di pusat keramaian dan tempat ibadah yang menewaskan banyak orang.
Belajar dari situasi mereka, saya menjadi paham bahwa keragaman itu sangat mahal harganya. Mereka dulu awalnya seperti kita, persis seperti kita sekarang.
Duduk minum kopi setiap sore sambil ngobrol politik adalah kebiasaan orang2 timur tengah. Kehidupan mereka sangat biasa, layaknya kehidupan normal. Tidak ada yang mengira bahwa semua itu berubah 180 derajat.
Awalnya isu2 biasa yang dihembuskan. Kemudian terbentuk ormas2 militan. Lama2 semakin meluas dan meruncing ke arah sektarian. Dan kemudian masuklah orang2 asing yg bergabung bersama orang lokal untuk membangun keributan. Jangan salah, orang2 asing ini berbaju sama dgn yg lokal bahkan beragama sama. Mereka membaurkan diri ditengah2.
Titik2 api biasanya dimulai di perbatasan2 ( ingatkan dimana posisi Tolikara dan Singkil ? ). Ketika disana rusuh, maka terbukalah pintu perbatasan untuk masuknya para jihadis2 dari banyak negara. Mereka bukan tentara. Mereka sipil yang militan.
Sesudah chaos, pemerintahan goyang bahkan sampai jatuh, masuklah si polisi dunia dengan kendaraan NATO-nya. NATO ini kendaraan perang bagi koalisi negara yg punya kepentingan. Mereka masuk ke medan perang, seolah2 sebagai dewa penengah tapi sesungguhnya mereka membantu meluaskan wilayah perang. Mereka memasok amunisi dan senjata yg diterjunkan dr pesawat2 kepada para militan.
Para militan ini memang seperti pembuka jalan utk NATO. Dan ini sudah diakui langsung oleh Hillary Clinton, bahwa merekalah yang mendanai militan berbaju islam dgn paham wahabi itu. Awalnya AS ikut campur di afghanistan dgn membiayai mujahidin disana untuk memerangi Uni Sovyet.
Sesudah mujahidin menang dgn persenjataan yg dipasok mereka, AS akhirnya memanfaatkan mereka untuk meluaskan skalanya ke timur tengah dgn membentuk organisasi2 radikal spt alqaeda dan sekarang ISIS. Mereka berkoalisi dgn Saudi dan Qatar untuk ini. Ulama2 wahabi di negara itu dibayar untuk memfatwakan jihad dan surga kepada para militan. Fatwa mereka menyerang pimpinan negara yang dituju, entah dia akhirnya dituding syiah kafir seperti Bashar assad maupun sunni kafir spt Qaddafi.
Polanya sama dgn yang ada di Indonesia, meski modelnya disesuaikan dengan situasi di masing2 negara.
Apa yang tidak terjadi disini sekarang ? Ormas militan, mengkafir2kan ulama besar, isu syiah, gesekan dgn kristen, parade tauhid sbg unjuk kekuatan, pembentukan jaringan aliansi nasional anti syiah di seluruh Jawa dan banyak lagi yang seharusnya membuat mata kita terbuka situasi ini nanti akan mengerucut kemana.
Sedangkan aparat juga tidak bisa sembarangan menangkapi mereka jika perangkat hukumnya belum kuat. Salah langkah, akibatnya akan menguntungkan para radikal. Situasinya sdh beda dgn era Soeharto dimana pada waktu itu belum ada media sosial yang menghubungkan seluruh dunia dalam satu layar. Bisa2 pelarangan dan penangkapan para radikal tanpa alasan yang kuat seperti perusakan, menjadi ajang propaganda mereka karena dizolimi pemerintah. Mereka akan menyalakan semangat jihad kemana2 bahwa aparat bertindak otoriter. Bisa seperti Mesir negara kita berbulan2 dilanda kerusuhan.
Membuka wawasan terhadap situasi yg berkembang di timur tengah dan mengamati persamaan polanya adalah bagian dari meningkatkan kewaspadaan. Sekarang ini kita masih pada tahap perang pemikiran di media sosial, tapi nanti ujungnya akan masuk pada perang fisik. Apalagi melihat pemerintah sudah mulai mengutik Freeport dan masalah royaltinya juga kontrak perpanjangannya yang menyalahi perjanjian. Apa AS akan diam saja ? Bukan begitu sifat asli mereka..
Momen sumpah pemuda ini seharusnya membuka kesadaran, terutama kepada para pemuda apapun latar belakangnya, bahwa wawasan politik sangat penting terutama pada situasi sekarang. Memahami akar masalah sudah menjadi keharusan. Memperingatkan potensi bahayanya kepada sekitar adalah kewajiban. Setidak2nya itulah senjata pemuda yang berpikiran cerdas dan berwawasan luas sekarang ini.
Jangan jadi pemuda alay, yang rambutnya disisir ke-korea2an, meski wajahnya hidung semua. Gerak geriknya kayak anak boyband, yang kalau liat celana warna terang trus girang dan kakinya menendang2 ke tanah kayak kambing kepanasan. Kalau ditanya situasi politik sekarang jawabannya terbata2 dan langsung mengalihkan topik salon mana yang menarik. Rambut di-cat pirang meski kulitnya hitam gelam. Kalau bicara , "cyiiinnn.. " Can cin can cin.. Muke lu kayak mocin...

Indonesia Darurat Wahabi?

BOCORAN WIKILEAKS atas Dokumen-Dokumen Rahasia milik Arab Saudi.
(Rahasia di balik cepatnya penyebaran Sekte Wahabi di Indonesia & negeri-negeri muslim lainnya).
***
Sekte Wahabi sengaja Diekspor oleh Arab Saudi ke semua penjuru dunia Islam dg dukungan dana yg luar biasa, untuk merekrut & menggaji para juru dakwahnya, menerbitkan buku-buku, membangun masjid, mendirikan media-media seperti televisi dan radio, serta pusat-pusat kajian, dan lain sebagainya, seperti yg banyak menjamur di Indonesia. Dukungan ini baik scr langsung maupun tdk langsung, baik scr terang-terangan maupun tidak.
Dokumen itu jg menyebutkan, kampanye anti-Syiah jg merupakan upaya Saudi membendung penyebaran Syiah. Arab Saudi sangat khawatir dg semakin meningkatnya pengaruh Iran di dunia Islam.
Dana besar tersebut terutama untuk membiayai misi-misi dakwah Wahabi dari tahun 2010 hingga 2015. Termasuk untuk membayar/menggaji para pendakwah dan oknum-oknum pemerintahan yg sejakan atau mendukung misi dakwah mereka.
Koran Amerika ini (the New York Times) yg memuat bocoran dokumen ini memberi ulasan, bahwa penyebaran sekte Wahabi oleh Arab Saudi inilah yg bertanggungjawab melahirkan berbagai kekacauan, konflik dan perang di negara-negara di Timur Tengah seperti Irak, Yaman dan Suriah. Karena karakter paham tersebut yg memang radikal dan anti-perbedaan.
***
Betul kata ust.Solmed:
‪#‎IndonesiaDaruratWahabi‬

Selasa, 27 Oktober 2015

I Gusti Ngurah Rai

Sebuah ibukota kecamatan di Kabupaten Tabanan, Bali, menjadi saksi sejarah betapa orang-orang Hindu Bali mempunyai spirit perlawanan yang luar biasa menghadapi agresi Belanda.
Kota itu bernama Marga, yang oleh I Gusti Ngurah Rai dilekatkan dalam idiom "Puputan Margarana ". Puputan berarti perang habis-habisan. Puputan Margarana dapat dimaknai sebagai perang habis-habisan di Marga.
Di kota ini, Marga, I Gusti Ngurah Rai bersama 1.372 pasukan secara heroik tanpa sedikitpun rasa takut pada kematian bertempur menghadapi tentara-tentara Belanda.
Rasa cinta mereka pada mimpi kemerdekaan mengalahkan rasa cinta mereka pada keluarga dan anak-anak mereka. Dengan memakai ikat kepala berwarna putih dan pakaian berwarna putih, I Gusti Ngurah Rai memimpin anak buahnya menjemput kematian untuk Indonesia Raya.
Tak ada setetes pun air mata dari ibu-ibu mereka, isteri-isteri mereka saat mendengar kabar bahwa I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya mati di medan laga. Para perempuan itu justru bangga anak-anak dan suami-suami mereka telah menjadi laki-laki yang berdedikasi untuk Indonesia Raya.
Patut dicatat, I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukan sebelum turun ke medan laga, memanjatkan doa kepada Dewata agar diberi keberanian dan ketulusan hati. Warna putih yang mereka pakai merupakan simbol dari ketulusan dan kesucian itu.
Marga menjadi penanda bahwa orang-orang Hindu Bali turut serta mendarahi lahirnya republik ini. I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukan adalah pribadi-pribadi Hindu yang mengindonesia.
Marga menjadi saksi bahwa ribuan orang Hindu rela mati untuk Indonesia Raya. Mereka mencintai Hindu sekaligus mencintai Indonesia.

Senin, 19 Oktober 2015

Setahun bersama Jokowi..

Apa prestasi Jokowi selama setahun berkuasa ? tanya teman saya kemarin sore.Saya diam saja. Teman itu mengatakan bahwa hal yang tak selesai berpuluh tahun dapat diselesaikan. Apa itu ? membrantas mafia migas dan pangan,. menghapus sebagian besar subsidi yang membebani anggaran, menegakkan kedaulatan negara di laut dengan menangkapi kapal penjarah ikan,surplus neraca perdagangan. Bagaimana dengan serapan anggaran yang masih lambat?kata saya.Menurutunya perlambatan serapan anggaran itu lebih kaerna faktor birokrasi yang bekaitan dengan procedure anggaran yang sangat ketat Namun tahun depan, serapan anggaran akan meningkat pesat seiring established nya kementrian yang baru dibentuk dan adanya paket kebijakan ekonomi yang berhubungan dengan debirokratisasi.
Tapi yang pasti walau serapan anggaran lambat khususnya alokasi anggaran di PEMDA namun setahun Jokowi berkuasa ada beberapa proyek strategis yang behasil dieksekusi. Skema pembiayaan tidak selalu dari APBN tapi ada juga melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) melalui BUMN lewat pernyertaan modal negara (PMN) dan investor Asing, Kini pembangunan sedang berangsung terus.
Adapun proyek yang dimaksud adalah pembangunan Kilang Minyak Bontang, Pengelolaan Air Minum Semarang Barat , Jalan Tol Balikpapan-Samarinda,Revitalisasi tiga bandara, Raden Inten II, Lampung, Bandara Mutiara, Palu dan Bandara Labuan Bajo, Komodo. transmisi listrik 'High Voltage Direct Current' (HVDC) Interkoneksi Sumatera Jawa (ISJ).Pembangunan Empat ruas jalan tol Sumatera yakni Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, Pekanbaru-Dumai, dan Bekauheni-Tebanggi Besar. Pembangunan Proyek Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, Jawa. Pembangunan kereta api ekspress Bandara Soekarno Hatta. Pembangunan moda Kereta Api Kalimantan Timur untuk pengangkutan barang, Pembangunan transmisi listrik di Sumatera sebesar 500 kv. Pembangunan 11 bendungan dan revitalisasi waduk,irigasi dan estate food di Papua.
Ya setahun terlalu singkat untuk menilai prestasi jokowi namun setidaknya Jokowi telah melakukan langkah berani dengan focus kepada proyek prioritas yang strategis ,yang berpuluh puluh tahun hanya ada di dalam kepala pemimpin. Melakukan langkah berani lewat kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, yang berpuluh tahun hanya ada dalam wacana. Memang masih terlalu banyak PR yang harus dikerjakan dan tentu tidak mudah. Semua menuntut kerja keras untuk Indonesia yang lebih baik. 

Asal Cinta dan Volume Otak :D

ini menarik banget. Bila ditanya, dari mana asalnya cinta, seorang ahli biologi evolusi akan menjawab secara pragmatis: dari ukuran otak manusia. Sebenarnya Homo neanderthalensislah yang memiliki volume otak yang paling besar, otak mereka kurang lebih lebih besar 100 cm³ dibandingkan volume otak Homo sapiens dewasa seperti kita. Walaupun demikian, karena manusia Neanderthal sudah punah, kini Homo sapienslah yang memiliki volume otak paling besar di seluruh ordo Primata. Volume otak yang besar ternyata membawa masalah evolusi, persisnya pada tahap persalinan.
Bila volume otak kita besar, jelas, tengkorak kita juga besar. Untuk ukuran tubuh manusia normal, tengkorak yang besar akan mempersulit proses persalinan (normal) karena bayi akan kesulitan melewati leher rahim dan vagina. Bila seorang bayi manusia harus lahir dalam pertumbuhan yang setara dengan bayi simpanse yang baru lahir, dia harus dikandung selama 21 bulan, dong. Bayangin, Ibu-ibu! grin emoticon Dengan begitu, bayi Homo sapiens harus dilahirkan "prematur", artinya, sebelum tengkoraknya menjadi terlalu besar sehingga akan mempersulit proses persalinan yang artinya membawa kegagalan evolusi.
Kelahiran "prematur" ini menyebabkan bayi Homo sapiens membutuhkan ikatan keluarga yang kuat dalam waktu lama untuk bisa bertahan hidup. Supaya bisa bertahan hidup, manusia membutuhkan hubungan personal jangka panjang dan ikatan emosional yang mendalam. Pertama dari ibunya, lalu ayah, lalu saudara-saudara dalam keluarga batih dan kemudian lingkungan sosialnya yang lebih luas. Tidak ada spesies lain di muka bumi yang membutuhkan ikatan sosial yang lebih kuat dan lebih lama daripada Homo sapiens. Maka secara evolusi, emosi-emosi seperti: rasa percaya, simpati, empati, keinginan mendapatkan pengakuan dan penerimaan sosial dan tentu saja pada akhirnya: cinta, menjadi berkembang sampai ke tahap yang kompleks.

Penempatan dana diluar negeri

Untuk diketahui bahwa penempatan dana diluar negeri tidak selalu motive menyembunyikan uang hasil korupsi tapi sebagian besar kaena motive rasa aman.Maklum bicara uang ditangan dalam jumlah besar selalu dasarnya orang tidak mau ambi resiko sekecil apapun. Apabila dia tidak merasa nyaman menyimpan di Indonesia maka dia akan tempatkan di luar negeri. Apalagi skema penempatan dana di luar negeri itu tidak sulit karena kita menganut kebebasan transfer dana.
Data dana asal Indonesia yang ditempatkan di OFC (offshore financial center ) regions seperti Swiss, Bahama, BVI, Caymand Island dll, mencapai USD 200 billion lebih. Jumlah ini jauh lebih besar dari cadangan devisa negara kita. Yang jelas data yang dipublikasikan oleh Ford Foundation melalui laporan Global Financial Integrity dari tahun 2002 sampai dengan 2010 jumlah dana asal Indonesia yang parkir diwilayah offshore mencapai USD 108,89 billion.
Ketika mereka ingin melakukan ekspansi bisnis di Indonessia terpaksa harus menempuh skema yang rumit dan mahal. Petama mereka harus create cash collateral.. Untuk proses ini biaya yang harus dibayar sedikitnya 5%. Kedua, mereka harus mengajukan pinjaman ke bank dengan underlying proyek yang akan dibiayainya di Indonesia. Proses kedua ini dia harus keluar ongkos sedikitnya 5%. Disamping kewajiban membayar bunga tahunan yang sediktinya 4%. Jadi total ongkos yang harus dibayar oleh pengusaha sampai uang di indonesia sebesar 10%. Belum lagi bunga yang harus di bayar tahunan.Mahal.
Apabila UU menganai amesty tax di syahkan maka pengusaha cukup membayar tax 3 % tanpa ditanya asal usul dananya dan ini jauh lebih murah dibandingkan pengusaha harus melewati skema layering yang mencapai 10%.Tak bisa dibyangkan apabila UU ini disyahkan maka dana offshore akan mengalir ke indonesia seperti air bah, bukan saja dana asal indonesia tapi juga asing karena maklum suku bunga, yield ,peluang investasi di indonesia jauh lebih tinggi dan luas dibandingkan luar negeri..Goodbye Singapore, goodbye Hong kong..we go home...
Saat sekarang pemerintah besama DPR sedang mempersiapkan UU berkaitan dengan amnesty tax. di harapkan tahun ini akan disyahkan. Sementara pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang sangat longgar untuk berinvestasi di indonesia.Ini merupakan solusi smart Jokowi dan bernuasa berani demi rekonsialiasi nasional , bersatu membangun indonesia lebih baik.

Sabtu, 17 Oktober 2015

PP tentang perpanjang kontak Freeport

Berita koran kemarin menyiratkan bahwa Jokowi tidak akan membuat PP tentang perpanjang kontak Freeport. Mengapa ? Sebetulnya ini bukan hal yang luar biasa tapi karena Jokowi mengikuti kehendak UU 4/2009 tentang Minerba. Dimana dalam Pasal 169a UU Minerba yang berbunyi,”Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (a) Kontrak Karya (KK) dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan mineral dan batubara yang telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian”.
Dengan ketentuan ini berarti perusahaan yang masih berjalan kontrak karyanya (KK) termasuk Freeport tidak perlu mengikuti ketentuan IUP dari UU 4/2009 sampai masa kontrak karya selesai. Adapun KK Freeport berlaku sampai tahun 2021 dan dapat diperpanjang dua tahun sebelumnya atau 2019. Yang jadi masalah adalah Freeport butuh kepastian bahwa izin akan diperpanjang dan itu harus ditegaskan sekarang.Karena Feeport akan melakukan invetasi untuk tambang bawah tanah. Jokowi setuju namun perpanjangan kotrak tidak lagi mengacu dengan kontrak yang lama tapi sesuai dengan UU 4/2009. dan pembahasan soal perpanjangan kontrak itu nanti tahun 2019. Freepot keberatan...
Apa yang tersirat dari amanah UU 4/2009 ? keberadaan feeport harus memberikan manfaat bagi papua dalam bentuk PAD. Harus ada peningkatan lokal konten, divestasi, royalti dan industri pertambangan di Papua dan pembangunan smelter di Indonesia. kalau Freeport keberatan ya Freeport harus angkat kaki. Jadi masalah Freeport ini biasa saja dan tak ada istilah tekanan dari amerika atau apalah. Selagi UU itu belum direvisi maka selama itu yang menang adalah rakyat indonesia. 

Minggu, 11 Oktober 2015

Dari Bernanke ke Yellen

Pada masa kampanye Obama sebagai Capres selalu mengkritik kebijakan pemulihan krisis yang dilakukan oleh Pemerintahan Bush dan Chairman The Fed Bernanke.

Bukan hanya Obama, tapi anggota kongres dan senat dari partainya (Demokrat) juga mengkritik stimulus moneter yang memanjakan Wall Street (sektor keuangan), tapi abai soal Main Street (sekor riil).
Banyak orang berspekulasi, dengan Kemenangan Obama dan jumlah kursi di parlemen lebih besar di Demokrat, masa depan Benanke sebagai Chairman The Fed akan berakhir. Menariknya, pada saat pembentukan Kabinet, Obama justru memasukan Kepala The Fed New York Tim Geithner sebagai Menteri Keuangan.

The Fed New York adalah kantor The Fed yang melaksanakan paket bailout yang dikecam Obama, yaitu memberi dana stimulus ke Wall Street, bukan Main Street.

Alasan Obama juga menarik, memilih Menkeu yang memahami masalah adalah orang yang berada dalam pusaran masalah itu sendiri.
Seperti layaknya tata negara yang menganut Indepedensi Bank Sentral, seperti juga di Indonsia, di Amerika Serikat juga menganut pencalonan Chairman The Fed oleh Presiden dan dipilih di parlemen.
Bedanya, di AS itu dilakukan 1 tahun setelah Presiden baru terpilih sedangkan di Indonesia justru sebaliknya Gubernur BI dipilih 1 tahun jelang pemerintahan akan berakhir.
Saya rasa ini juga harus diluruslan di dalam rencana perubahan UU BI setiap Kepala Negara (Presiden) terpilih diberikan hak menata lembaga negara dalam masa pemerintahannya, harusnya setahun setelah Presiden terpilih bukan seperti sekarang.
Sehingga, sekarang di tengah jatuhnya Rupiah kita melihat lagi sinyal disharmoni antara Presiden dan DPR terpilih dengan Gubernur BI yang dipilih periode sebelummya, sebagaimana bola panas yang sudah ditendang Fraksi PDIP DPR yang meminta Audit Khusus operasi moneter BI terkait tugasnya dalam UU BI untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Kita kembali lagi ke cerita di AS (sebagai studi komparasi), mengejutkan kemudian Obama mencalonkan Bernanke untuk periode ke 2 sebagai Chairman The Fed. Dalam pidato mengantarkan pencalonan Bernanke ke parlemen, Obama mengatakan situasi pemulihan krisis masih membutuhkan kreatifitas yang dimiliki oleh Bernanke.
Di era pertama Obama ini pulalah, selain Bernanke terpilih kembali sebagai Chairman The Fed, juga apa yang disebut stimulus “wall street” lebih terformalkan sebagai konsensus politik ekonomi Pemerintah – The Fed – Parlemen, itulah yang disebut QE (Quantitave Easing).
Yang menarik, disamping Obama menelan kembali ludahnya, di Amerika soal eksternalitas tampakya secara politik, memiliki kawan bersama. YAITU, “American Dream” yang dominan dalam perekonomian dunia.
Dukungan politik terhadap kawan bersama dan musuh bersama dalam perang moneter global cukup clear untuk tidak dijadikan saling cakar stabilitas politik. Demokrasi yang telah memaski usia dewasa, wajar saja :)
Hal yang sama juga terjadi di Cina, meski di sana lebih mudah karena politik satu partai.
Tapi, sekali lagi menarik melihat peta perang global dalam dasa warsa terakhir ini, yang terjadi di lapangan tembak moneter.Untuk satu ini, meski dalam alokasi anggaran di Amerika Serikat demokrasi model parlemen dan Presidensial bisa melahirkan “goverment shut down”, tetapi untuk mandat konsensus politik ekonomi eksternal di The Fed, tampaknya mereka disatukan oleh kawan bersama dan atau musuh bersama. Sebuah catatan.
Sebaliknya di Indonesia unsur eksternal justru jadi agenda amunisi saling cakar dalam kompetisi politik lokal.
Waktu berlalu, Bernanke dan The Fed selalu dibebani oleh konsensus normalisasi kebijakan QE. The Fed (FOMC) meyakini bahwa normalisasi dilakukan dengan memberhentikan kebijakan QE (Tapering Off) dan diikuti setelahnya kenaikan kembali Fed rate.
Ukurannya adalah (1) pertumbuhan ekonomi AS; (2) Angka Pengangguran AS; (3) Long Term Inflation target. Ukuran angka pun sudah diserahkan ke FOMC, dan mereka sepakati. Soal tapering off, mereka solid dan sudah sesuai sinyalnya telah dilakukan pula oleh The Fed. Lalu, pasar dimainkan di isu lanjutannya, kenaikan kembali Fed rate.
Disaat bersamaan dengan tapering off QE, maka pasar mulai berhitung normalisasi kebijakan The Fed yang akan menaikan suku bunga. Posisi tapering off QE dan normalisasi bunga Fed rate waktunya bersamaan dengan masa pemerintahan Obama kedua, yang artinya terjadi lagi masa pemilihan Chairman The Fed.
Pada masa kedua ini, Bernanke yang sudah dua kali jadi Chairman The Fed tidak dicalonkan kembali. Lalu, munculah nama Yellen yang merupakan Wakil Bernanke di The Fed.
Dan benar Obama mencalonkan Yellen sebagai calon tunggal. Dalam fit and proper di parlemen Amerika Serikat profil Yellen begitu tegas sebagai figur pro kenaikan bunga Fed rate, yang tergambar dari setiap FOMC vote soal kenaikan bunga Yellen pro kenaikan bunga.
Profil lain dari Yellen adalah dia merupakan staf Chairman The Fed Paul Volcker (Chairman The Fed 1979-1986, era Presideden Reagen). Dimana, saat ini Paul Volcker adalah penasehat ekonomi Obama untuk pemulihan Ekonomi.
Volcker terkenal sebagai aliran ‘clasic bankers’, yaitu peran Bank yang domonan sebagai transmisi kredir ke sektor riil dibandingkan perannya sebagai investment bankers dalam memutar uang di pasar keuangan.
Di era Obama, lahir pula Volcker Rule yang mengatur Perbankan Amerika Serikat untuk mengakhiri perannya di pasar keuangan. Aturan ini, pada waktu ditetapkan akan berlaku 1 Juli 2015.
FOMC The Fed di era terakhir Bernanke juga menyatakan baseline perkiraan kenaikan bunga mulai Januari 2015.
Dua sinyal ini, bunga dan volker rule serta terpilihnya Yellen di Januari 2014 diyakini dalam alam bawah sadar persepsi pasar yang mengglobal bahwa bunga dan anti tesis pasar akan jadi transmisi kebijakan The Fed.
Pasar tentu memberikan perlawanan dengan membuat volatilitas lebih lebar dan sering, sehingga jika bunga naiknya nanggung maka pasar masih jauh lebih tinggi memberikan gain. Dengan kata lain, pasar minta bunga lebih tinggi.
Soal pasar yang sok ngatur kompetisi market gain (return) dengan bunga Fed rate pada dasarnya akan dikunci oleh pelaksanaan Volcker Rule.
Menariknya, Volcker Rule pun ditunda oleh The Fed pelaksanaanya. Konon, paling cepat Juli 2016 atau bahkan kemungkinan besar ke Juli 2017.
Disisi lain, Cina (PBoC) terpancing keluar dari permainan saling bertahan ini dengan mendevaluasi Yuan. Lalu, The Fed menyatakan syarat naikan bunga belum tercapai karena long run inflation baru 1,7% dari 2% yang jadi baseline The Fed dalam menaikan bunga.
Devaluasi Yuan sebagai partner dagang impor barang di Amerika Serikat jadi turun, inflasi di AS direm bunga tak punya legitimate order untuk naik.
Tapi, bagi saya gambaran ini menarik sekali betapa Amerika Serikat telah bermain “strategi persepsi” menyihir keyakinan global mereka akan pilih naikin bunga dan volcker rule dengan memilih Yellen.
Tapi, hari ini “sihir Yellen” berbeda arahnya. Satu hal, kenaikan bunga adalah biaya Bank Sentral dalam mengkompensasi Inflasi. Dimana, di satu sisi inflasi dalam batas tertentu juga adalah energi pertumbuhan ekonomi.
Kalau dilihatnya kesana, pemulihan ekonomi pertama kali selalu terkait konsumsi rumah tangga. Yellen juga meengatakan anga pemulihan konsumsi rumah tangga memuaskan.
Yang tersirat dari yang tersurat, di sisi lain penyerapan tenaga kerja yang membiayai konsumsi rumah tangga memerlukan investasi. Di keseimbangan antara agresifitas penyerapan tenaga kerja di atas konsumsi itulah energi inflasi akan jadi olinya.
Apa yang ingin dilakukan oleh kenaikan bunga? Ada 2 hal, mengkompensasi inflasi dan mengkonsolidasikan uang beredar di pasar keuangan ke dalam keranjang perbankan AS. Skenaario normalisasi menyatakan bahwa setelag dana terkonsolidasi, maka perbankan AS dengan Volcker rule akan kembali ke pasar kredit investasi.
Jadi, kenaikan bunga sebagai biaya akan diganti oleh keuntungan bergeraknya investasi melalui kredit Bank yang menyerap daya kerja. Pada akhirnya, daya kerja ini akan menjadi pertumbuhan daya beli yang akan mengeliminasi inflasi berlebihan.
Yang terjadi saat ini The Fed tampil dengan keterbukaan langkah dan ukuran data. Mereka selalu mengatakan memberi kesempatan kepada negara berkembang dan pasar keuangan yang terkena dampak kebijakan normalisasi Fed untuk bersiap, waktu yang diberikan selalu “based on data”.
Sampai sini, kita “strong US Dolar atas semua mata uang” terjadi, dan inflasi menuju 2% tampak terproyeksi, munculah Cina (PBoC) yang menyebabkan harga barang impor dari Cina turun (perang mata uang). Drama ini tertunda, PBoC mengambil langkah menghentikan umpan Fed ATAUKAH sebaliknya Fed berhasil memancing PBoc?
Disini, bagi saya menarik perang mata uang sebagai perang abad ini dengan pertempuran antar Bank Sentral, memainkan permainan dominasi melalaui pembentukan persepsi, bahkan seperti main bola bisa juga dengan tendangan pisang yang menipu.
Terpilihnya Yelen telah membuat banyak orang yakin akan cepatnya bunga naik dan volker rule, begitu dekat justru tidak jadi. Cerdiknya, merek sudah siapkan bahwa bukan karena mereka mempermainkan pasar, tapi karena memang ambang batas data inflasi yang dibuka sebelumnya belum sampai.
Inilah era yang kita hadapi, sebuah era yang sama dengan saat depresi besar di tahun 1929 di Bursa New York. Saat itu, 1930 Bung Karno dalam persidangan Hindia Belanda dalam pledoi “Indonesia Menggugat”, mengatakan dengan jelas kami disuruh tanam paksa, kerja paksa yang hasilnya untuk membiayai krisis industri negara barat.
Saat ini, ya sama kan? Siapa membiayai siapa? Ini persoalan bangsa, yang harus dihadapi dengan strategi negara “bersati kita teguh, bercerai kita runtuh”.
Ingat kembali krisis 1929, banyak yang menulis dalam literatur bahwa keseimbangan baru tak semata keberhasilan paket Ekonomi New Deal Roselvelt, tapi juga karena Perang Dunia ke 2 mengakhirinya menuju keseimbangan baru.
Coba tengok, saat ini PBoC Cina mengajak permainan cepat dengan mengambil aksi devaluasi Yuan perang mata uang. Rusia jga sama seolah memberi sinyal cepetan aja menuju zona perang fisik.
Perlu diingat era Volcker sebagai Chairman The Fed di pemerintahan Reagan juga AS dilanda mini krisis 1980 yang kemudian mereka keluar dengan invasi ke teluk. Seolah Putin mau bilang ke Obama, kalau ini yang kalian mau ayo kita ke Suriah…
aah, itukan masih spekulasi barangkali… tapi, inilah dunia baru siapa berstrategi mendahului kurva maka mereka berpeluang memanfaatkan krisis jadi lompatan menjadi pemenang..
Salam #enjoyAja,

Jumat, 09 Oktober 2015

Analisis Alfamart dan Indomaret

Abis beli kacang kulit di indomaret dengan logo indomaret bukan kacang garuda atau 2 kelinci,jadi bahan obrolan menarik,dengan analisa secukupnya,saya mengatakan bahwa indomaret maupun alfa itu bukan sekedar buka "warung biasa" seperti warung umumnya yg penting ada pemasukan tiap hari.
Alfamart maupun indomaret lebih dari itu,dengan menggunakan IT, data2 penjualan setiap hari,minggu,bulan,tahun di analisa,kebiasaan konsumen membeli apa saja,kebiasaan konsumen inilah yg dijadikan dasar buat mereka untuk membuat produk sendiri,apa yang kita beli dindomaret atau alfa dengan logo mereka itu adalah hasil dari menganalisa kebiasaan konsumen dan kebutuhan konsumen setiap hari.
Database yang mereka miliki inilah harta karun yang bisa mengembangkan bisnis mereka, kacang,minyak goreng,gula,tusuk gigi,cutonbad,pencukur kumis,air mineral, yang mereka branding dengan logo2 mereka itu memiliki nilai tambah,dari menganalisa kebiasaan konsumen keluar produk2 yang akan diserap pasar dan pastinya sudah diperhitungkan bahwa produk yg dikeluarkan adalah produk yang sering dibeli konsumen.
Mereka cukup kerjasama dengan penghasil produk2 atau UKM2 lokal,kerjasama yang saling menguntungkan.
Itu yang warung tradisional g bisa diadopsi,mereka hanya tau kebiasaan konsumen beli apa tanpa bisa memproduksi.
Melihat kesuksesan aplikasi gojek dan grabbikepun,alfa dan indomaret yg bersaing ini pun turut mengembangkan aplikasi masing2,membuat konsumen semakin g perlu keluar dari rumah,yang paling keliatan adalah pesan antar gas,beras,galon air.
Bisnispun semakin berkembang dengan topangan IT.
Apa warung tradisional akan tergerus?pastinya tetap ada,hanya ceruk pasarnya akan semakin terbatas dan saya rasa selalu ada celah2 untuk kreatifitas dan orang indonesia terkenal sangat kreatif
Menarik untuk melihat perkembangan peggunaan aplikasi untuk membantu memperluas bisnis yg ada

Aku Kecebong Mikroskopis

Di jaman dahulu aku bersaing dengan 40 juta sejenis diriku
berlomba lomba untuk menjadi yg tercepat dan terkuat di antara 40 juta mahluk persis diriku.aku adalah mahluk yg istimewa yg terpilih dan memilih menjadi mahluk yg baru
saat ini jika aku harus berkompetisi dengan ribuan mahluk sepertiku
itu serasa lebih mudah dibanding perjuanganku di jaman dahulu
bila ku ingat lagi di masa yg lebih jauh ke belakang saat aku masih dalam bentuk anasir mineral dari berbagai semesta jauh lebih berat perjuanganku di tempa panas dingin suhu semesta
namun sering aku merindukan aku yg paling dahulu sekali
di saat aku belum memiliki bentuk dan warna juga rasa
di dalam kekosongan sebelum ada segala sesuatu yg bernama ada
semakin bertambah nya esensi kesadaran dan selalu berubah bentuk
dalam bentuk bentuk baru sering membuat aku melupakan sejarah lintasan kehidupanku yg telah lalu
saat ku lihat trip perrjalanan lintasan esensi memory kesadaranku
yg akan datang semakin kuat yg harus aku ingat dan aku simpan
semakin padat ruang waktu lintasan esensi memory kesadaran
semakin banyak hal baru yg harus aku temui di setiap lintasan
=HINGGA KITA SEMUA MENYADARI DARI SATU PIKIRAN YG SAMA =
bahan baku yg sama sumber yg sama kekuatan yg sama
percaya maupun tidak semua akan menjadi satu kembali

Selasa, 06 Oktober 2015

Keynes, Friedman, dan Rupiah

Menurut Keynes saat ekonomi lesu, maka motif perilaku likuiditas akan cenderung untuk berjaga-jaga akan kekhawatiran akan masa depan
Keynes, lalu meyakini bahwa faktor suku bunga akan mengkompensasi ekpektasi tabungan untuk berjaga2 itu…
Lagi, menurut Keynes selama marjinal dari kenaikan suku bunga akan sampai titik menurun, ketika marjin bunga atas inflasi semakin menurun digantikan marjin investasi yang lebih baik (expected of return)
Itu kenapa, Keynesian menganggap belanja pemerintah disaat lesu harus agresif untuk meningkatkan uang beredar disaat uang sektor swasta mengendap di tabungan… uang pemerintah inilah yang diyakini akan menurunkan marjin bunga atas inflasi, sehingga bergerak ke investasi…
Teori ini disanggah oleh Friedman, orang yang dikenal sebagai monetaris. Menurut Friedman, suku bunga (bank) bukan satu-satunya variabel yang mempengaruhi ekspektasi return dan atau kompensasi inflasi atas likuiditas masa depan.
Friedman mengatakan, perekonomian modern juga dipengaruhi oleh pasar keuangan, yaitu tingkat keuntungan (gain) dari perdagangan surat berharga, baik saham dan atau obligasi.
Sehingga, ekpektasi soal bunga tidak akan efektif, selama pasar memiliki ruang keuntungan mengkompensasi inflasi dan atau keuntungan jangka pendek.
Singkat cerita, terjadi persaingan antara perbankan dan pasar keuangan. Sepanjanh pasar keuangan dapat memberi ruang keuntungan marjinal melebihi inflasi dibanding suku bunga, maka uang akan berputar-putar.
Kemarin Rupiah melemah, harus dilihat bahwa ruang marjin keuntungan dari arbitrase “short sell” instrumen rupiah punya ruang keuntungan. Dan, ini tentu akan memyempit, kalau uang dan instrumen yang diputar adalah barang lama.
Kalau dia menyempit, logikanya bunga bank akan naik. Maka, akan ada crash di pasar keuangan tertentu. Kenapa, tidak didorong crash? Tentu, jawabannya harus dilihat ke ‘mix theory’ antara keynes-friedman yang dianut tante Yelllen yang saat ini memegang kendali di The Fed.
Ada soal angka serapan pengangguran yang melambat di AS. Ada juga soal trade defisit di AS yang naik. Serta, inflasi di AS pun angkanya masih dibawah perkiraan. Artinya, bunga Bank masih lebih tidak menarik, dan mendorong perekonomian di AS dibanding marjin yang dihasilkan pasar keuangan.
Pasar keuangan pun, jika “sell off” dilanjutkan, likuiditasi di pasar uang telah menurun marjinnya. Atas dasar likuiditas barang yang sama yang digoreng, biar tidak gosong harus diangkat dulu.
Apa nanti tidak digoreng lagi? Kalau melihat empiris dengan dasar mix-theory dari Keynes-Friedman, rasanya ini terlalu pagi mengatakan sudah selesai. Kalau pakai game theory Nash, ini soal keseimbangan yang dikendalikan pemain dominan.
Apakah Rupiah atau US Dolar yang dominan mengendalikan keseimbangan? Saya rasa, tidak ada hal baru, pemain dominan masih The Fed, kita hanya beruntung diantara ruang sempit mereka. Ingin lepas dari itu, tidak ada yang instan, tapi harus dimulai…
mau darimana? Itulah masalah kita, ini soal bangsa. Sepanjang kita saling menyalahkan diantara kita sendiri, dan alsani (alasan sana sini) saat menguat atau melemahnya Rupiah ini, maka kita hanya bermain ilusi ditengah pemain dominan asyik terus dengan gorengannya.
Mau kuat mau lemah, poinnya ya aksani (aksi sana sini), agar kita tetap terjaga saat gorengan ini dibolak balik. Tidak ada yang instan, tapi harus dimulai. Tariik Mang… asoy geboy gedebug huhuy…

Jumat, 25 September 2015

Mengapa Kita ini Bangga jadi orang Pelit?

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat. Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter. Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan di sana. Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua. Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri.
Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman. Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,-. Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus. Si Pembeli kemudian melihat ikan koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar. Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-.
Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa. Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual.
Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5000,- per buah. Begitu gigihnya mendapat 4 buah dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik. Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, dia pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.
Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar serta puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,- Kemudian mereka berjalan ke mal dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 40.000,- atau semangkok bakso Rp. 60.000,-. Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar. Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.
Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan. Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun. Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin. Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan panas dari mal untuk memberi makan keluarganya. Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mal tanpa menanyakan kepantasannya.
Itu mereka. Kita tidak begitu ’kan?