Akhir-akhir ini, banyak umat Islam “nyinyir” terhadap “aksi duka” atas tragedi di Paris. Kata mereka kurang lebih gini: “kok baru sekarang pas tragedi di Paris aja pada sok duka-dukaan gitu? Waktu Palestina, Irak, dst dibantai “kafir” kalian diam saja?”
Sebenernya, banyak umat muslim perilakunya ya nggak jauh beda dari kelompok yang mereka nyinyiri tersebut.
Umat muslim sendiri begitu perhatian terhadap konflik di Palestina, Irak, dst, sampe rela panas-panasan demo di HI. Tapi mereka diam aja terhadap kasus-kasus pembantaian macam di Sudan, Somalia, atau daerah-daerah lain di Timur Tengah atau Afrika Utara.
Amerika nyerang Irak, kenceng protesnya. Lah udah sejak lama Saddam jadi tukang bantai warganya sendiri, main bunuh, main penjarakan tanpa proses pengadilan yang sah, toh para muslim sok aktipis tersebut pada nggak pernah mau tau.
Kalo boleh saya berpendapat: Patron berpikir umat Islam dalam merespon konfik-konflik kemanusiaan di seluruh dunia itu sudah sangat “khas” dan mudah sekali ditebak :
Muslim vs muslim konflik = diam saja.
Muslim membantai kafir = tidak mau tahu.
Kafir membantai kafir = bukan urusan kita.
Kafir membantai muslim = Nah, ini baru layak disebut tragedi kemanusiaan!
Muslim membantai kafir = tidak mau tahu.
Kafir membantai kafir = bukan urusan kita.
Kafir membantai muslim = Nah, ini baru layak disebut tragedi kemanusiaan!
Coba, perhatikan aja, polanya kan selalu begitu.
Kenapa banyak muslim “nyinyir” terhadap aksi duka korban Paris? Simpel jawabnya: Karena pelaku terornya adalah muslim, atau setidaknya mengarah kuat ke sana, sehingga banyak muslim merasa terpojok. Karena merasa terpojok, maka refleksnya adalah membela diri. Coba kalo pelakunya Yahudi dan korbannya muslim, pasti lain ceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar