Sebuah ibukota kecamatan di Kabupaten Tabanan, Bali, menjadi saksi sejarah betapa orang-orang Hindu Bali mempunyai spirit perlawanan yang luar biasa menghadapi agresi Belanda.
Kota itu bernama Marga, yang oleh I Gusti Ngurah Rai dilekatkan dalam idiom "Puputan Margarana ". Puputan berarti perang habis-habisan. Puputan Margarana dapat dimaknai sebagai perang habis-habisan di Marga.
Di kota ini, Marga, I Gusti Ngurah Rai bersama 1.372 pasukan secara heroik tanpa sedikitpun rasa takut pada kematian bertempur menghadapi tentara-tentara Belanda.
Rasa cinta mereka pada mimpi kemerdekaan mengalahkan rasa cinta mereka pada keluarga dan anak-anak mereka. Dengan memakai ikat kepala berwarna putih dan pakaian berwarna putih, I Gusti Ngurah Rai memimpin anak buahnya menjemput kematian untuk Indonesia Raya.
Tak ada setetes pun air mata dari ibu-ibu mereka, isteri-isteri mereka saat mendengar kabar bahwa I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya mati di medan laga. Para perempuan itu justru bangga anak-anak dan suami-suami mereka telah menjadi laki-laki yang berdedikasi untuk Indonesia Raya.
Patut dicatat, I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukan sebelum turun ke medan laga, memanjatkan doa kepada Dewata agar diberi keberanian dan ketulusan hati. Warna putih yang mereka pakai merupakan simbol dari ketulusan dan kesucian itu.
Marga menjadi penanda bahwa orang-orang Hindu Bali turut serta mendarahi lahirnya republik ini. I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukan adalah pribadi-pribadi Hindu yang mengindonesia.
Marga menjadi saksi bahwa ribuan orang Hindu rela mati untuk Indonesia Raya. Mereka mencintai Hindu sekaligus mencintai Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar