ini menarik banget. Bila ditanya, dari mana asalnya cinta, seorang ahli biologi evolusi akan menjawab secara pragmatis: dari ukuran otak manusia. Sebenarnya Homo neanderthalensislah yang memiliki volume otak yang paling besar, otak mereka kurang lebih lebih besar 100 cm³ dibandingkan volume otak Homo sapiens dewasa seperti kita. Walaupun demikian, karena manusia Neanderthal sudah punah, kini Homo sapienslah yang memiliki volume otak paling besar di seluruh ordo Primata. Volume otak yang besar ternyata membawa masalah evolusi, persisnya pada tahap persalinan.
Bila volume otak kita besar, jelas, tengkorak kita juga besar. Untuk ukuran tubuh manusia normal, tengkorak yang besar akan mempersulit proses persalinan (normal) karena bayi akan kesulitan melewati leher rahim dan vagina. Bila seorang bayi manusia harus lahir dalam pertumbuhan yang setara dengan bayi simpanse yang baru lahir, dia harus dikandung selama 21 bulan, dong. Bayangin, Ibu-ibu! grin emoticon Dengan begitu, bayi Homo sapiens harus dilahirkan "prematur", artinya, sebelum tengkoraknya menjadi terlalu besar sehingga akan mempersulit proses persalinan yang artinya membawa kegagalan evolusi.
Kelahiran "prematur" ini menyebabkan bayi Homo sapiens membutuhkan ikatan keluarga yang kuat dalam waktu lama untuk bisa bertahan hidup. Supaya bisa bertahan hidup, manusia membutuhkan hubungan personal jangka panjang dan ikatan emosional yang mendalam. Pertama dari ibunya, lalu ayah, lalu saudara-saudara dalam keluarga batih dan kemudian lingkungan sosialnya yang lebih luas. Tidak ada spesies lain di muka bumi yang membutuhkan ikatan sosial yang lebih kuat dan lebih lama daripada Homo sapiens. Maka secara evolusi, emosi-emosi seperti: rasa percaya, simpati, empati, keinginan mendapatkan pengakuan dan penerimaan sosial dan tentu saja pada akhirnya: cinta, menjadi berkembang sampai ke tahap yang kompleks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar