Sekembalinya dari berhaji tahun 1996 saya mewakafkan sebuah bangunan di jatibening yang kemudian kami buat yayasan husnul khatimah. Panti yatim. Kami mulai dengan memilihara 49 anak, laki-laki semua usia tidak ada yang lebih tua dari 15 tahun.
Pengurus hariannya, kala itu pemuda asal lamongan Muhammad Aly. Dan kemudian berkembang hingga bermentamorphosis menjadi RYI Rumah Yatim Indonesia.
Ada banyak cerita 21 tahun berberak dalam dunia panti yatim. Dan bukan hal masalah agama atau panti yang saya mau ceritakan dalam tulisan ini. Lainnya. Sebagaimana sahabat tahu, ada dua hal yang tabu saya tuliskan dalam status di FB ini. pertama tulisan tetang romance atau percintaan, berikutnya masalah spiritual.
Keduanya kecil dan hampir tidak mungkin saya tulis. Saya hanya lewat sekilas. Seperti informasi Rumah Yatim Indonesia yang saya rintis lama ini. Sekarang di Tasikmalaya markasnya dengan kang saiful chairmannya. Pemuda tabah luar biasa. Mengapa pindah dari jatibening ke tasik, ada juga cerita panjang yang saya mungkin ada “salah”nya.
Tulisan kali ini menceritakan kegelisahan saya saja sisi lain, yaitu ekonomi.
Saya memiliki data ekonomi Indonesia dan data itu tidak bagus, tidak kinclong bahkan jelek dan menurun. Industry manufaktur terendah dalam sejarah hanya 18% dimana kalau ternyata turun lagi di level di bawah 15% negera Indonesia bisa kembali menjadi negera agraris lagi. Back ward mundur industrinya.
Namun pengemar jokower tidak suka dengan argument saya. pemuja SM , rinso dan LBP adalah hater saya. sementara saya punya argument, tetapi dari sisi kenyataan yang saya alami, bisnis property saya sudah 2 tahun ini hanya menjual 5 rumah yang biasanya 1 tahun 20 rumah. Memang kami main di kelas B, bukan di kelas BTN . Kelas B adalah kelas 2-5 milyar perunit rumah.
Dalam bidang lain seperti teknologi, perminyakan, air minum perusahaan saya, 2 tahun terakhir hampir semua sales perusahaan turun, profit menipis. Bahkan sebagian harus lay off karyawan sejak tahun lalu.
Hal inilah yang membuat saya gelisah. Apakah saya sendirian yang lagi “sulit” dimana yang lain lagi heppy-heppy. Kalau benar begitu saya yang geblek. Kalau ternyata banyak orang seperti saya, maka tidak boleh salahkan pemerintah, ya kita geblek bareng artinya.
Sehingga saya pun malam tadi bertanya kepada pengurus RYI via telpon. Berapa zakat infaq shodaqoh dimana kami biasanya tahu sekali masukan RYI di bulan ramadhan bisa menghidupi panti sepanjang tahun.
Saya tidak akan mengatakan berapa jumlahnya biaya opersional tahunan kami, saya hanya ingin aman kah tahun ini. kalau ternyata aman atau bahkan meningkat maka itu cermin ekonomi makro Indonesia bagus. Hanya saya saja mungkin bisnisnya yang lagi kontraksi turun. Sementara yang lain naik atau stabil.
Karena jujur, sisi zakat mal, infaq secara perusahaan saya salurkan ketempat ini dan dengan berat hati turun jauh dalam 2 tahun ini.
Dan ketika jawaban pengurus RYI hingga minggu ketiga ramadhan ini belum setengah “ZIS”nya dari ramadhan-ramadhan biasanya maka saya yang tertunduk lemas. Apakah Indonesia salah kelola nih? . atau kami RYI yang kurang berjuang? Maaf bolehkah saya menunjuk pemerintah? .
Saya memutar otak keras tadi malam, saya merenung dan mencari solusi, banyak lintasan-lintasan terbetik dalam benar yang kaget saya ketika wa kang Syaiful yang menyatakan, ada ide apa pak?
Saya jawab melalui wa juga, ada banyak kang, merapat ke Jakarta ya atau ba’da ramadhan saya ke tasik.
Kalau urusan indonesia saya ngak berdaulat tetapi ratusan anak yatim RYI adalah bagian yang harus di pikirkan solusinya. Hanya bertumpu pada kekuatan sendirilah kembali lagi masalah itu terselesaikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar