Di kampung halaman di malang, selama ramadhan weekend saya sowan ke ibu. Itu komitmen saya tahun ini. Bayangkan, seorang berusia kepala 5 seperti saya, tetap anak kecil di hadapan ibu saya. Tetap semua benar apa yang dikatakan ibu saya kepada saya dan saya tidak akan pernah membantah, tetap manut 100% taklit apa yang di katakan ibu saya. Saya tidak pernah “grow up” di depan ibu saya.
Perkataan ibu bagi saya adalah titah, perintahnya adalah keharusan, keinginannya adalah amanah. Itu keputusan saya terhadap ibu saya.
Sampai seumur ini, saya masih duduk di karpet kalau ibu saya duduk di kursi, saya tidur di tempat tidur di bawah ibu saya posisinya. Dan cucunya, anak-anak saya? sama saja, meniru saya. Tetapi kesaya..anak-anak egaliter terhadap saya dan saya pun sangat egaliter kepada anak-anak. Saya “player”banget kalau urusan dengan anak. Adventurer banget dengan anak-anak. Bisa argument dengan anak-anak.
Ini karena beda jaman. Beda era, beda masa, beda pola pikir.
Ibu saya masih ngurusi kebun walau kecil, pagi masih ngurusi kebun apel (dulu) sekarang lagi di tebang semua di ganti jeruk. Baru tahun ke tiga. Tahun ke 4 kelima baru nati akan panen. Lama memang kebun itu mengelolanya, harus sabar. Apa lagi prinsip ibu “ pupuk terbaik bagi tanaman adalah kaki petani itu sendiri”.Jadi yang namanya ndangir, mupuk, nyemai, dan banyak lagi tiap saat harus di kerjakan, termasuk di sapa di sentuh di raba itu pohonnya.
Cucu nya semua mendadak jadi tukang kebun kalau dengan eyangnya ke kampung, di pujon. Sudah dingin, pagi-pagi di suruh “nyapa” tanaman coba. Yo wis, di ikuti saja. Seru kok melakukan hal yang “tak lazim” itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar